• Redaksi
  • Tentang Kami
Selasa, September 22, 2026
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
No Result
View All Result
Home Artikel

Mamak Kenut dan Negarabatin dalam Imaji Udo Z Karzi

ClarissaEditorClarissa
22/09/2026
in Artikel
A A
Mamak Kenut dan Negarabatin dalam Imaji Udo Z Karzi

Oleh Yinda Dwi Gustira

Clickinfo.co.id — ADA dua nama yang rasanya sulit dilewati begitu saja ketika kita memasuki jagat sastra Udo Z Karzi: Mamak Kenut dan Negarabatin. Yang satu manusia, yang satu negeri; yang satu gemar berceloteh, yang satu seperti tidak pernah kehabisan persoalan. Keduanya muncul berulang dalam karya-karya Udo dan, dari waktu ke waktu, berkembang melampaui fungsi awalnya. Mamak Kenut tidak lagi sekadar tokoh, sementara Negarabatin tidak lagi sekadar latar. Keduanya perlahan menjadi semacam fondasi imajinasi kepengarangan Udo Z Karzi.

Kalau mau sedikit sok teoritis, Mamak Kenut dapat disebut sebagai suara, sedangkan Negarabatin adalah ruang. Dengan bahasa yang lebih sederhana, Mamak Kenut adalah orangnya dan Negarabatin adalah kampungnya. Namun, seperti biasa, dalam karya Udo sesuatu yang tampak sederhana sebaiknya tidak buru-buru dipercaya. Di tangannya, nama bisa menjadi permainan, tokoh bisa menjadi alter ego, kampung bisa berkembang menjadi dunia, dan dunia bisa menjadi bahan untuk menertawakan manusia.

Mamak Kenut, Siapa Sebenarnya?

ArtikelTerkait

Buktikan Perbuatannya, Baru Kejar Tersangka 

APBD Hanya untuk Rakyat

Mamak Kenut bukan sekadar nama tokoh. Nama lengkapnya adalah Kenut Ali Kelumbai. Ia mula-mula dikenal melalui kolom-kolom Udo Z Karzi sebagai sosok yang gemar mengomentari berbagai perkara: politik, sosial, kebudayaan, orang Lampung, birokrasi, adat, hingga tingkah polah manusia sehari-hari. Celotehan itu kemudian memperoleh rumah dalam buku Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh (2012) dan Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali (2016).

Akan tetapi, perjalanan Mamak Kenut ternyata tidak berhenti sebagai komentator. Dalam Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis (2024), Kenut Ali Kelumbai tampil sebagai tokoh utama, sebagai “aku” yang menulis surat kepada Pithagiras. Di sini Mamak Kenut memasuki wilayah yang berbeda. Ia tidak hanya berhadapan dengan dunia luar yang bisa dikomentari dan ditertawakan, tetapi juga dengan ingatan, cinta, kegelisahan, filsafat, dan pertanyaan tentang manusia serta kehidupan.

Dengan demikian, perjalanan Mamak Kenut dalam karya Udo cukup menarik untuk diperhatikan. Ia mula-mula berceloteh, kemudian menjadi tokoh dalam dunia fiksi, dan akhirnya tampil sebagai “aku” yang bersurat. Dari kolom ia masuk ke buku, dari buku masuk ke dunia fiksi, dan dari dunia fiksi masuk ke wilayah batin. Perubahan itu membuat kita bertanya: sebenarnya siapa Kenut Ali Kelumbai? Ia tokoh, alter ego, juru bicara pengarang, atau pengarang yang sedang menyamar sebagai tokoh?

Mungkin semuanya sekaligus. Atau, kalau mau sedikit curiga, Mamak Kenut adalah semacam jalan keluar yang elegan bagi pengarang. Kalau ada pembaca yang merasa tersindir, pengarang selalu bisa berkata, “Itu Mamak Kenut, bukan saya.”

He-he-he.

Mamak Kenut sebagai Persona Kepengarangan

Di sinilah posisi Mamak Kenut menjadi penting. Ia bukan sekadar karakter yang memiliki nama dan kehidupan imajiner, melainkan persona kepengarangan: cara Udo Z Karzi memandang dan berbicara tentang dunia.

Dalam suara Mamak Kenut, persoalan yang serius tidak selalu perlu disampaikan dengan dahi berkerut. Kekuasaan tidak harus selalu dilawan dengan pidato, dan kritik sosial tidak harus selalu tampil dalam bahasa yang berat. Humor dapat menjadi cara untuk membongkar sesuatu yang justru terlalu serius untuk dibicarakan secara langsung.

Mamak Kenut berdiri sedikit di luar panggung. Ia mengamati, mendengar, mencatat, lalu berbicara. Karena itu, ia dapat mengomentari masyarakat tanpa sepenuhnya menjadi bagian dari bahasa resmi masyarakat tersebut. Ia bisa mencurigai jargon, menertawakan kepura-puraan, dan melihat absurditas dalam kehidupan sehari-hari. Di tangan Mamak Kenut, humor bukan sekadar hiasan. Humor menjadi cara melihat.

Karena itu, Mamak Kenut dapat dipahami sebagai semacam mata dan mulut dalam jagat Udo Z Karzi. Ia melihat apa yang berlangsung di sekitarnya, lalu mengubah pengamatan itu menjadi celotehan. Ia bisa membawa kritik, tetapi menyampaikannya dengan nada yang ringan; bisa membicarakan persoalan sosial, tetapi tidak kehilangan kelucuan manusiawi. Sesekali ia seperti orang yang duduk di sudut warung kopi dan mengetahui terlalu banyak tentang kampungnya sendiri.

Negarabatin: Negeri yang Tidak Pernah Selesai

Jika Mamak Kenut adalah manusia, maka Negarabatin adalah dunianya. Negarabatin bukan sekadar nama tempat dalam karya Udo Z Karzi. Ia berkembang menjadi ruang imajiner yang menampung manusia, adat, sejarah, politik, cinta, konflik, kenangan, perubahan sosial, dan berbagai keganjilan kehidupan.

Negarabatin tentu berakar pada pengalaman lokal Lampung, terutama lingkungan budaya yang dekat dengan kehidupan Udo. Namun, ketika masuk ke dalam karya sastra, tempat itu tidak lagi sekadar kampung halaman yang dipindahkan ke halaman buku. Ia menjadi mikrokosmos: sebuah ruang kecil yang memungkinkan berbagai persoalan yang lebih besar dibicarakan.

Di Negarabatin ada Lampung, tetapi sekaligus ada Indonesia. Bahkan, dalam arti tertentu, ada manusia dengan segala persoalannya. Negeri ini tidak dibangun sebagai utopia. Ia justru hidup karena problemnya. Ada kekuasaan, konflik, adat, perubahan zaman, orang pintar, orang sok pintar, orang baik, orang yang kelihatannya baik, dan manusia yang ketika memperoleh kekuasaan mendadak lupa bahwa dirinya juga manusia.

Justru karena itulah Negarabatin menarik. Ia bukan kampung yang dipoles sedemikian rupa sehingga kehilangan kenyataan. Ia adalah ruang yang di dalamnya kehidupan berlangsung dengan segala kontradiksinya. Ada kebanggaan terhadap identitas lokal, tetapi juga kritik terhadap orang-orang lokal. Ada adat dan tradisi, tetapi juga perubahan. Ada romantisme kampung halaman, tetapi ada pula persoalan sosial dan politik.

Dengan demikian, Negarabatin dapat dibaca sebagai Lampung yang telah diolah menjadi imaji. Ia bukan dokumentasi geografis dan bukan pula replika kampung halaman. Ia merupakan hasil pertemuan antara pengalaman, ingatan, kebudayaan, dan daya cipta pengarang. Karena itu, ketika pembaca bertanya, “Negarabatin itu di mana?”, jawaban yang paling aman mungkin: di antara Lampung yang nyata dan Lampung yang dibayangkan.

Yang menarik, Udo tidak berhenti pada Mamak Kenut sebagai tokoh kolom. Ia kemudian membawa dunia itu ke dalam novel Negarabatin (2016), yang memperoleh Hadiah Sastra Rancage 2017, dan Negarabatin: Negeri di Balik Bukit (2022). Di sini Mamak Kenut memperoleh kehidupan yang lebih kompleks sebagai tokoh fiksi, sementara Negarabatin berkembang dari sekadar nama tempat menjadi latar, dunia sosial, ruang kebudayaan, sekaligus metafora kehidupan.

Dengan demikian, Mamak Kenut bergerak dari tokoh kolom menjadi persona, karakter fiksi, dan semacam alter ego literer, sedangkan Negarabatin tumbuh dari nama tempat menjadi sebuah dunia imajiner yang terus diperluas dari karya ke karya.

Mamak Kenut dan Negarabatin: Orang dan Panggung

Hubungan Mamak Kenut dan Negarabatin menjadi semakin jelas jika keduanya dilihat sebagai pasangan. Mamak Kenut adalah tokohnya, sedangkan Negarabatin adalah panggungnya. Negarabatin menyediakan lingkungan sosial tempat Mamak Kenut dapat hidup dan berceloteh; sebaliknya, Mamak Kenut membuat Negarabatin memiliki suara.

Kalau Negarabatin adalah kampung, Mamak Kenut barangkali adalah orang yang paling cerewet di warung kopinya. Ia tahu siapa yang baru pulang, siapa yang baru mendapat jabatan, siapa yang sedang jatuh cinta, siapa yang sedang berpura-pura tidak tahu, dan siapa yang sebenarnya tahu tetapi memilih diam. Dengan kata lain, ia adalah pengamat kehidupan sehari-hari.

Di sinilah hubungan keduanya menjadi produktif secara sastra. Negarabatin memberi Mamak Kenut persoalan, sementara Mamak Kenut memberi Negarabatin perspektif. Tempat dan tokoh itu saling menghidupkan. Tanpa Negarabatin, celotehan Mamak Kenut kehilangan lingkungan sosialnya; tanpa Mamak Kenut, Negarabatin kehilangan salah satu suara yang paling khas untuk mengomentari kehidupannya.

Ngupi Pai: Ketika Lampung Dibicarakan Sambil Ngopi

Hubungan Mamak Kenut dan Negarabatin juga dapat dilihat dalam Ngupi Pai: Sesobek Kecil Ulun Lampung (2019). Judulnya sendiri sudah memberikan petunjuk mengenai cara buku itu mendekati Lampung: ngupi pai, ngopi dulu.

Barangkali membicarakan Lampung memang tidak harus selalu dilakukan dalam forum resmi dengan bahasa yang kaku. Ia bisa dilakukan sambil duduk, mengobrol, mengingat, dan menertawakan diri sendiri. Ngupi Pai seperti membuka ruang kecil untuk melihat kelampungan dari jarak dekat: bukan kelampungan yang dipoles mengilap sampai kehilangan manusia di dalamnya, melainkan kelampungan yang hidup dengan kebiasaan, kebanggaan, kegelisahan, kekonyolan, dan kontradiksinya.

Frasa “sesobek kecil” juga menarik. Udo tidak sedang mengklaim telah menulis seluruh Lampung. Hanya sesobek kecil. Namun, justru dari sebuah sobekan kecil kita kadang dapat melihat keseluruhan kain. Demikian pula dengan Mamak Kenut dan Negarabatin: keduanya memberi jalan untuk melihat Lampung bukan sebagai objek yang beku, melainkan sebagai kehidupan yang terus berubah dan terus diperdebatkan oleh orang-orang yang menghidupinya.

Kenut Ali Kelumbai dan Kerabatnya di Norwegia

Lalu sampailah kita pada bagian yang tidak boleh dilewatkan dalam permainan nama ini. Nama lengkap Mamak Kenut adalah Kenut Ali Kelumbai. Kalau sampai ke Norwegia, ia rupanya memiliki kerabat sastra yang cukup terkenal: Knut HaAmsun.

😀

Kenut dan Knut. Kenut Ali Kelumbai dan Knut Hamsun. Yang satu tokoh ulun Lampung, yang satu pengarang besar Norwegia. Yang satu punya ngupi, yang satu punya Hunger. Yang satu datang dari negeri kopi, yang satu dari negeri dingin.

Kalau keduanya benar-benar bertemu, mungkin Knut Hamsun akan mengajak Kenut Ali Kelumbai membicarakan kesunyian manusia, sementara Mamak Kenut mengajak Knut Hamsun ngupi pai. Setelah dua cangkir kopi, barangkali keduanya akan sampai pada kesimpulan bahwa manusia di Norwegia dan manusia di Negarabatin ternyata sama-sama punya masalah. Hanya cuacanya yang berbeda.

Tentu saja ini permainan nama. Namun, justru permainan semacam itu menunjukkan betapa lenturnya karakter Mamak Kenut. Ia sudah memiliki kehidupan yang melampaui satu teks. Ia dapat berpindah dari kolom ke buku, dari buku ke novel, dari komentar sosial ke surat cinta, dan bahkan—setidaknya dalam permainan bunyi—berkunjung ke Norwegia.

Dari Mamak Kenut kepada Pithagiras

Perjalanan Kenut Ali Kelumbai dalam Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis (2024) memperlihatkan perkembangan lain yang penting. Di sana ia tidak hanya menjadi pengamat dunia luar, tetapi masuk ke wilayah batin. Jika dalam tulisan-tulisan sebelumnya Mamak Kenut banyak melihat masyarakat dan berbicara tentang berbagai persoalan di sekitarnya, dalam novel ini ia berhadapan dengan ingatan, perasaan, dan refleksi diri.

Surat menjadi bentuk percakapan, Pithagiras menjadi lawan bicara, dan Kenut menjadi “aku”. Jarak antara tokoh dan pengarang pun sengaja dibuat tidak terlalu terang. Pembaca dipersilakan bermain-main dengan pertanyaan: mana Kenut, mana Udo, mana pengalaman, dan mana fiksi? Mana surat yang benar-benar pernah ditulis dan mana surat yang justru “lupa ditulis”?

Judulnya sendiri sudah mengandung permainan itu. Sesuatu yang lupa ditulis justru menjadi sebuah buku. Sastra memang kadang-kadang kurang ajar dengan cara yang menyenangkan.

Perubahan ini juga memperlihatkan bahwa Mamak Kenut bukan hanya alat untuk menyampaikan kritik sosial. Ia dapat menjadi kendaraan untuk memasuki wilayah yang lebih personal dan reflektif. Dengan demikian, karakter tersebut memperoleh kedalaman baru tanpa harus kehilangan watak dasarnya sebagai sosok yang suka bermain dengan bahasa dan keadaan.

Negarabatin sebagai Imaji tentang Lampung

Sementara itu, Negarabatin terus berkembang sebagai salah satu fondasi penting imajinasi Udo Z Karzi tentang Lampung. Ia adalah ruang tempat tradisi, adat, bahasa, sejarah, ingatan, persoalan sosial, dan pengalaman personal bertemu.

Karena itu, Negarabatin tidak harus dicari secara persis di peta. Ia lebih tepat dipahami sebagai tempat yang berada di antara kenyataan dan imajinasi. Ia adalah Lampung yang telah melewati proses pengolahan sastra.

Negarabatin memang “di balik bukit”, tetapi bukit itu bukan hanya persoalan geografis. Ada bukit ingatan, sejarah, kebudayaan, dan pengalaman yang harus dilewati untuk sampai ke sana. Di balik bukit itulah Udo menempatkan sebuah negeri kecil yang secara perlahan menjadi semakin besar karena terus diisi oleh tokoh, cerita, persoalan, dan kenangan.

Jagat Udo: Tokoh dan Ruang yang Berkunjung dari Buku ke Buku

Jika karya-karya Udo Z Karzi dilihat sebagai sebuah keseluruhan, Mamak Kenut dan Negarabatin tampak sebagai tokoh dan ruang lintas-karya. Keduanya tidak tinggal dalam satu buku, melainkan terus berkunjung dari satu karya ke karya lain dan mengalami perubahan fungsi.

Mamak Kenut hadir dalam kolom, kemudian memperoleh kehidupan dalam buku, kembali ke Negarabatin, dan akhirnya tampil sebagai Kenut Ali Kelumbai yang menjadi “aku” dalam Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis. Negarabatin pun bergerak dari nama tempat menjadi latar, lalu berkembang menjadi dunia sosial dan imaji tentang Lampung.

Dengan demikian, Udo Z Karzi tidak hanya menciptakan cerita secara terpisah-pisah. Ia secara perlahan membangun sebuah jagat kepengarangan yang memiliki tokoh, ruang, sejarah, kebiasaan, bahasa, dan ingatan sendiri. Pembaca yang mengikuti karya-karyanya akan seperti bertemu orang-orang lama di tempat yang berbeda. Tokohnya mungkin sedang melakukan sesuatu yang baru, tetapi kita merasa mengenal mereka karena mereka datang dari dunia yang sama.

Dalam konteks inilah Mamak Kenut dan Negarabatin memiliki posisi yang sangat penting. Keduanya menjadi semacam benang merah yang menghubungkan berbagai karya Udo, sekaligus memperlihatkan konsistensi perhatiannya pada Lampung, manusia, kebudayaan, dan perubahan sosial.

Mamak Kenut adalah Suara, Negarabatin adalah Dunia

Pada akhirnya, posisi keduanya dalam imaji Udo Z Karzi dapat dirumuskan dengan sederhana: Mamak Kenut adalah suara, sedangkan Negarabatin adalah dunia.

Mamak Kenut membawa cara melihat; Negarabatin menyediakan tempat bagi apa yang dilihat itu. Mamak Kenut membawa kelakar dan kritik; Negarabatin menyediakan kehidupan yang memungkinkan keduanya bekerja. Di antara keduanya muncul watak kepengarangan Udo yang khas: berangkat dari lokalitas, tetapi tidak terkungkung oleh lokalitas; kritis, tetapi tidak kehilangan humor; dekat dengan kebudayaan, tetapi tidak menjadikannya benda yang beku; dan akrab dengan persoalan manusia tanpa kehilangan kegembiraan bermain-main dengan bahasa.

Mamak Kenut boleh berganti bentuk: dari kolumnis menjadi tokoh, dari tukang celoteh menjadi “aku”, dari Kenut Ali Kelumbai sampai—kalau sedang iseng—Knut Hamsun. Negarabatin pun boleh berganti fungsi: dari nama tempat menjadi latar, dari latar menjadi dunia, dan dari dunia menjadi metafora tentang Lampung dan manusia.

Namun, ada sesuatu yang tetap bertahan: Mamak Kenut terus berbicara, dan Negarabatin terus menyediakan bahan untuk dibicarakan.

Mungkin memang begitulah cara Udo Z Karzi membangun jagat sastranya. Ia tidak perlu mendirikan istana sastra yang megah. Cukup membuat sebuah negeri di balik bukit, menaruh beberapa manusia di dalamnya, memberi mereka persoalan, lalu menyuruh seorang lelaki bernama Kenut Ali Kelumbai duduk di sudut warung sambil berkata, “Ngupi pai!”

Sebab, sebelum dunia dibicarakan, sebelum filsafat diperdebatkan, sebelum sastra dipertengkarkan, dan sebelum orang-orang berebut menjadi paling sastrawan, barangkali memang lebih baik ngupi pai.

Setelah itu, silakan Mamak Kenut ngoceh lagi.

Dan kita, para pembaca, tinggal pura-pura tidak tersindir. []

Daftar Pustaka:

Karzi, Udo Z. 2012. Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh. Bandar Lampung: Indept Publishing.

Karzi, Udo Z. 2016. Ke Negarabatin, Mamak Kenut Kembali. Bandar Lampung: Indepth Publishing.

Karzi, Udo Z. 2016. Negarabatin. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK.

Karzi, Udo Z. 2019. Ngupi Pai: Sesobek Kecil Ulun Lampung. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK.

Karzi, Udo Z. 2021. “Mamak Kenut, Negarabatin, Ngupi Pai…”. LaBRAK.CO, 14 Mei.

Karzi, Udo Z. 2022. Negarabatin: Negeri di Balik Bukit. Bandung: Pustaka Jaya.

Karzi, Udo Z. 2023. “Knut Hamsun dan Mamak Kenut”. LaBRAK.CO, 27 Maret.

Karzi, Udo Z. 2024. Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK.

Nurdaya-Djafar, Iwan. 2024. “Cinta Lama yang Tiada Bersemi Kembali, Sebuah Autofiksi dari Udo Z Karzi”. LaBRAK.CO, 25 Agustus.

______________
Yinda Dwi Gustira, dosen bahasa Lampung FKIP Universitas Lampung.

Tags: ImajiMamak KenutNegarabatinUdo Z Karzi
Previous Post

Pemilihan Peratin Pesisir Barat Bakal Diatur Ulang, Fraksi-Fraksi Sampaikan Catatan

Related Posts

Buktikan Perbuatannya, Baru Kejar Tersangka 

Buktikan Perbuatannya, Baru Kejar Tersangka 

21/09/2026
APBD Hanya untuk Rakyat

APBD Hanya untuk Rakyat

20/09/2026
Lima Jurnalis Hilang, Luka Panjang Dunia Pers

Lima Jurnalis Hilang, Luka Panjang Dunia Pers

19/09/2026
Karhutla Bukan Kejahatan Biasa

Karhutla Bukan Kejahatan Biasa

18/09/2026
PT 5 Persen, Bagaimana Nasib Suara Rakyat? 

PT 5 Persen, Bagaimana Nasib Suara Rakyat? 

17/09/2026
20 Koper Uang dan Ironi Keadilan Pertanahan

20 Koper Uang dan Ironi Keadilan Pertanahan

16/09/2026
Mamak Kenut dan Negarabatin dalam Imaji Udo Z Karzi
Artikel

Mamak Kenut dan Negarabatin dalam Imaji Udo Z Karzi

EditorClarissa
22/09/2026

Clickinfo.co.id -- ADA dua nama yang rasanya sulit dilewati begitu saja ketika kita memasuki jagat sastra Udo Z Karzi: Mamak Kenut...

Read more
Pemilihan Peratin Pesisir Barat Bakal Diatur Ulang, Fraksi-Fraksi Sampaikan Catatan

Pemilihan Peratin Pesisir Barat Bakal Diatur Ulang, Fraksi-Fraksi Sampaikan Catatan

21/09/2026
Kerja Sama dengan Tangsel, Pesisir Barat Adopsi Sistem Integrasi Data Pajak dan Pertanahan

Kerja Sama dengan Tangsel, Pesisir Barat Adopsi Sistem Integrasi Data Pajak dan Pertanahan

21/09/2026
Musda XI Golkar Bandar Lampung, Rycko Menoza Resmi Pimpin Periode 2026–2031

Musda XI Golkar Bandar Lampung, Rycko Menoza Resmi Pimpin Periode 2026–2031

21/09/2026
Meter Air Rawan Dicuri, Perumda Tirta Musi Minta Pelanggan Lebih Waspada

Meter Air Rawan Dicuri, Perumda Tirta Musi Minta Pelanggan Lebih Waspada

21/09/2026
clickinfo.co.id

Lampung, Indonesia
Telepon : 081225227939
E-mail : admin@clickinfo.co.id

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.