Clickinfo.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung menggelar Sosialisasi Perdagangan Karbon di Bursa Karbon di Ballroom UIN RIL, Senin (18/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti akademisi, mahasiswa, pelaku industri, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat mengenai ekonomi hijau dan keuangan berkelanjutan.
Rektor UIN Raden Intan Lampung, Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D., mengapresiasi sinergi yang dibangun OJK bersama UIN RIL dalam mengedukasi masyarakat terkait perdagangan karbon.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu global, seperti ekonomi hijau, keuangan berkelanjutan, dan pengendalian perubahan iklim.
“Kami menyambut baik kerja sama ini sebagai upaya memperkuat literasi masyarakat terhadap isu-isu strategis global, khususnya ekonomi hijau, keuangan berkelanjutan, dan perdagangan karbon,” ujarnya.
Prof. Wan menjelaskan, UIN Raden Intan Lampung terus mengembangkan konsep kampus hijau sejak bertransformasi dari IAIN menjadi UIN pada 2017. Komitmen tersebut dibuktikan dengan capaian kampus yang sejak 2018 konsisten menjadi perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) terbaik dalam pemeringkatan UI GreenMetric.
Ia menilai perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya emisi karbon merupakan tantangan global yang harus dihadapi melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan lembaga keuangan.
“Kehadiran bursa karbon menjadi salah satu instrumen penting untuk mendukung pengurangan emisi sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang berbasis keberlanjutan,” katanya.
Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam, lanjutnya, UIN RIL memandang pelestarian lingkungan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Keuangan Derivatif, Bursa Karbon, Transaksi Efek, dan Pemeriksaan Khusus OJK, I Nyoman Suka Yasa, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program OJK dalam meningkatkan literasi dan inklusi masyarakat di sektor jasa keuangan dan pasar modal.
Menurut Nyoman, literasi keuangan menjadi faktor penting agar masyarakat memahami manfaat sekaligus risiko berbagai produk dan instrumen keuangan.
“Literasi dan inklusi harus berjalan beriringan. Inklusi tanpa literasi justru dapat menjadi bumerang karena masyarakat bisa terjebak pada praktik-praktik yang merugikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perdagangan karbon kini menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.
Melalui mekanisme tersebut, perusahaan yang berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca dapat memperoleh nilai ekonomi dari unit karbon yang dihasilkan, sementara pihak lain dapat membeli unit karbon untuk memenuhi target pengurangan emisi.
Nyoman menilai Lampung memiliki potensi besar dalam pengembangan perdagangan karbon, khususnya melalui sektor kehutanan, perkebunan, dan pengelolaan lahan berkelanjutan. Namun hingga saat ini, baru terdapat satu pengguna jasa karbon yang berasal dari Provinsi Lampung.
“Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang karena Lampung memiliki potensi besar, baik melalui sektor kehutanan maupun pengembangan teknologi ramah lingkungan,” katanya.
OJK berharap Provinsi Lampung dapat menjadi salah satu pusat pengembangan perdagangan karbon di Sumatera sekaligus mendorong percepatan ekonomi hijau di Indonesia.
Selain itu, Nyoman menilai kalangan akademisi dan mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengembangkan riset, inovasi, serta sumber daya manusia di bidang ekonomi hijau dan keuangan berkelanjutan.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy, Kepala Direktorat Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Bayu Samodro, jajaran Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Lampung, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), pimpinan UIN Raden Intan Lampung, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta juga mendapatkan materi dari sejumlah narasumber mengenai tata kelola nilai ekonomi karbon, implementasi Monitoring, Reporting, Verification (MRV), hingga mekanisme perdagangan karbon melalui Bursa Karbon Indonesia.
















