• Redaksi
  • Tentang Kami
Jumat, Agustus 21, 2026
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Mengubur Bahasa Lampung

ClarissaEditorClarissa
20/05/2026
in Opini
A A
Mengubur Bahasa Lampung

Udo Z Karzi, jurnalis-penulis, tiga kali memenangkan Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung (2008, 2017, dan 2025). Foto: Udo Z Karzi

Clickinfo.co.id — ORANG-ORANG di dunia pendidikan kita ini sungguh aneh. Mereka bisa begitu fasih bicara tentang “masa depan”, “daya saing global”, “industri”, “hilirisasi”, “pasar kerja”, dan sederet istilah keren yang terdengar seperti judul seminar di hotel berbintang. Namun, ketika bicara tentang bahasa daerah, tiba-tiba logikanya berubah seperti sinyal Wi-Fi di kampung: putus-putus.

Saya membaca berita tentang sorotan terhadap isu penghapusan Program Studi Bahasa Daerah pada Magister Pendidikan Bahasa di Universitas Lampung. Isu itu dibahas dalam kuliah umum dan memunculkan kekhawatiran banyak pihak (“Soroti Isu Penghapusan Prodi Bahasa Daerah, Magister Pendidikan Bahasa Unila Gelar Kuliah Umum”, Potensinews.id , 20 Mei 2026).)

Begini kira-kira ruang rapat para pengambil kebijakan pendidikan tinggi.

ArtikelTerkait

Sayembara Ijazah Gibran dan Cermin Pendidikan Kita

RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

“Program apa yang tidak mendukung industri?”

“Bahasa daerah, Pak.”

“Tidak menghasilkan pasar kerja?”

“Kayaknya kurang menjanjikan.”

“Tutup!”

Korslet benar!

Lalu, saya tertawa kecil. Tertawa yang getir. Tertawa model orang kampung yang sadar bahwa dirinya sedang pelan-pelan dihapus dari peta kebudayaan oleh bangsanya sendiri.

Sebab, logika “tidak mendukung industri dan pasar kerja” itu sesungguhnya sangat berbahaya kalau dipakai untuk menentukan hidup-matinya ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Kalau begitu cara berpikirnya, mari kita tutup saja semua yang tidak langsung menghasilkan uang cepat. Sastra ditutup. Filsafat ditutup. Sejarah ditutup. Antropologi ditutup. Museum dibongkar jadi ruko. Arsip dibakar sekalian untuk menghemat gudang.

Kenapa repot-repot memelihara bahasa daerah kalau ujungnya tidak menghasilkan startup?

Begitu, kan?

Padahal manusia tidak hidup dari industri saja. Manusia hidup dari ingatan. Dari bahasa. Dari cerita. Dari identitas. Dari kebudayaan.

Bahasa Lampung bukan sekadar mata kuliah. Ia bukan cuma bahan ajar, bukan sekadar skripsi mahasiswa yang dijilid biru lalu berdebu di perpustakaan kampus. Bahasa Lampung adalah hidup dan kehidupan orang Lampung.

Di dalam bahasa itu ada cara orang tua menasihati anaknya. Ada cara masyarakat menghormati tamu. Ada cara orang bercanda. Ada cara orang berpantun. Ada cara orang marah tanpa terlihat kasar. Ada sejarah. Ada falsafah piil pesenggiri. Ada cara memandang dunia.

Kalau bahasa itu mati, maka yang mati bukan cuma kosakata.Yang mati adalah cara hidup. Dan, ketika cara hidup itu mati, tamatlah perlahan kebudayaan Lampung.

Kalau kebudayaan Lampung tamat, lalu apa yang tersisa dari ulun Lampung? Nama jalan? Batik motif siger? Festival seremonial yang dibuka pejabat lalu ditinggalkan setelah sambutan?

Kita ini sering lucu. Di satu sisi pemerintah rajin bicara tentang pelestarian budaya. Ada festival budaya. Ada lomba nyambai. Ada seminar bahasa daerah. Ada Hari Aksara. Ada pidato tentang pentingnya kearifan lokal.

Tapi, di sisi lain, akar kebudayaannya sendiri justru dicabut pelan-pelan. Ini seperti orang yang sibuk menyiram daun sambil menebang batang pohon.

Saya membayangkan 20 atau 30 tahun lagi. Anak-anak Lampung tidak lagi bisa bercakap dalam bahasa ibunya sendiri. Mereka cuma tahu “tabik pun” sebagai slogan seremoni. Bahasa Lampung tinggal menjadi ornamen panggung. Tinggal jadi subtitle acara adat. Tinggal jadi koleksi penelitian lama.

Dan yang paling menyedihkan: kepunahan itu dilakukan secara resmi, sistematis, dan administratif. Dengan stempel negara.

Ironisnya, yang melakukan justru lembaga pendidikan. Lembaga yang seharusnya menjaga pengetahuan. Bayangkan betapa absurd-nya situasi ini. Negara mengakui keberagaman budaya sebagai kekayaan nasional, tetapi pada saat yang sama kebijakan pendidikannya justru membuat bahasa-bahasa daerah kehilangan ruang hidup.

Apa yang terjadi kalau Prodi Bahasa Lampung benar-benar ditutup? Sederhana. Akan makin sedikit guru bahasa Lampung. Makin sedikit peneliti bahasa Lampung. Makin sedikit penulis sastra Lampung. Makin sedikit dokumentasi. Makin sedikit regenerasi.

Lalu bahasa itu pelan-pelan masuk ICU kebudayaan. Setelah itu mati.

Dan, kita akan pura-pura kaget ketika UNESCO suatu hari menyatakan bahasa Lampung terancam punah. Padahal, pembunuhnya bukan perang. Bukan penjajah. Bukan bencana alam. Melainkan, kebijakan pendidikan.

Karena itu saya bilang: kalau sampai penutupan prodi bahasa Lampung benar-benar terjadi, itu bukan sekadar kesalahan akademik. Itu bisa disebut genosida kultural terhadap ulun Lampung.

Mungkin ada yang menganggap istilah itu berlebihan. Namun, coba pikirkan baik-baik. Apa arti sebuah bangsa tanpa bahasa? Apa arti identitas tanpa kebudayaan? Apa arti masyarakat adat jika bahasa ibunya tinggal artefak?

Genosida tidak selalu dilakukan dengan senjata. Kadang dilakukan dengan regulasi. Dengan penghapusan. Dengan pembiaran. Dengan logika efisiensi. Dan, biasanya dimulai dengan kalimat yang terdengar sangat teknokratis: “Tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja.”

Ah, pasar kerja lagi. Kita ini terlalu lama memandang pendidikan hanya sebagai pabrik tenaga kerja. Kampus dianggap semacam bengkel industri. Semua harus punya nilai ekonomi langsung. Akibatnya kita lupa bahwa universitas juga punya tugas menjaga peradaban.

Tidak semua hal harus diukur dengan profit. Sebab, kalau semuanya tunduk pada pasar, maka kebudayaan akan kalah sejak awal. Bahasa daerah memang tidak akan bisa bersaing dengan industri digital. Sastra daerah memang tidak akan mengalahkan aplikasi investasi. Penelitian aksara kuno memang tidak akan viral seperti konten joget.

Tapi, justru karena itulah negara harus hadir. Kalau negara hanya mau membiayai sesuatu yang menguntungkan secara ekonomi, lalu apa bedanya kementerian pendidikan dengan marketplace?

Kebudayaan yang dibiarkan tunduk total pada mekanisme pasar pada akhirnya hanya akan menghasilkan manusia-manusia yang modern, tetapi tercerabut dari akar. Mereka fasih bahasa asing, tetapi gagap memahami dirinya sendiri.

Dan, mungkin itulah tragedi terbesar kita hari ini: menjadi maju sambil kehilangan jiwa. Maka, isu penghapusan prodi bahasa daerah ini bukan perkara kecil. Ini alarm serius. Ini soal keberlanjutan identitas. Soal masa depan kebudayaan Lampung.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah rumah. Dan sekarang, rumah itu sedang hendak dibongkar oleh pemilik negerinya sendiri. []

___________
Udo Z Karzi, jurnalis-penulis, tiga kali memenangkan Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung (2008, 2017, dan 2025).

Tags: Mengubur Bahasa LampungOpiniSastrawan LampungUdo Z Karzi
Previous Post

Bazar Hewan Qurban Tanggamus 2026 Dibuka, Bupati Borong 10 Kambing dari Peternak Lokal

Next Post

Pelatihan Penanganan Kekerasan Digelar, Pemkab Pesibar Tekankan Pelayanan dengan Hati

Related Posts

Sayembara Ijazah Gibran dan Cermin Pendidikan Kita

Sayembara Ijazah Gibran dan Cermin Pendidikan Kita

20/08/2026
RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

19/08/2026
Ketika Presiden Sendiri Harus Mengadu, Angin Segar bagi Demokrasi dan Pencari Keadilan

Ketika Presiden Sendiri Harus Mengadu, Angin Segar bagi Demokrasi dan Pencari Keadilan

18/08/2026
Merawat Damai, Menjaga Aceh 

Merawat Damai, Menjaga Aceh 

17/08/2026
IKN Tak Disebut, Bukan Berarti Ditinggalkan

IKN Tak Disebut, Bukan Berarti Ditinggalkan

16/08/2026
Ayat Suci Bukan Alat Promosi Miras

Ayat Suci Bukan Alat Promosi Miras

15/08/2026
Next Post
Pelatihan Penanganan Kekerasan Digelar, Pemkab Pesibar Tekankan Pelayanan dengan Hati

Pelatihan Penanganan Kekerasan Digelar, Pemkab Pesibar Tekankan Pelayanan dengan Hati

Harkitnas 2026, UIN RIL Dorong Semangat Persatuan dan Kemajuan di Era Digital

Harkitnas 2026, UIN RIL Dorong Semangat Persatuan dan Kemajuan di Era Digital

Aklamasi, Prof. Idham Kholid Lanjut Pimpin Senat UIN Raden Intan Lampung

Aklamasi, Prof. Idham Kholid Lanjut Pimpin Senat UIN Raden Intan Lampung

Amankan Kayu Curian dan Mobil Pikap, KPH Batu Serampok Gagalkan Aksi Pembalakan Liar di Register 17

Amankan Kayu Curian dan Mobil Pikap, KPH Batu Serampok Gagalkan Aksi Pembalakan Liar di Register 17

Pemprov Lampung Targetkan Kemantapan Jalan Provinsi di Pringsewu 100 Persen pada 2029

Pemprov Lampung Targetkan Kemantapan Jalan Provinsi di Pringsewu 100 Persen pada 2029

Poros Wartawan Lampung Desak Transparansi Temuan BPK soal Pertanggungjawaban Belanja Museum
Berita

Poros Wartawan Lampung Desak Transparansi Temuan BPK soal Pertanggungjawaban Belanja Museum

EditorAidil
20/08/2026

Clickinfo.co.id — Poros Wartawan Lampung menyoroti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait pertanggungjawaban belanja pada UPTD Museum Lampung dan UPTD...

Read more
Kajian Malam Jumat Masjid Al Iman, Ustadz Doni Sastrawan: Mukmin Itu Bagaikan Sebuah Bangunan

Kajian Malam Jumat Masjid Al Iman, Ustadz Doni Sastrawan: Mukmin Itu Bagaikan Sebuah Bangunan

20/08/2026
Perkuat Ketahanan Energi, Pemprov Lampung Ikuti Grand Entry Meeting BPK RI

Perkuat Ketahanan Energi, Pemprov Lampung Ikuti Grand Entry Meeting BPK RI

20/08/2026
Kajian Malam Jumat di Masjid Al Iman, Ustadz Doni Sastrawan: Setelah Perintah Bertaqwa, Allah Perintahkan Kita Bersatu

Kajian Malam Jumat di Masjid Al Iman, Ustadz Doni Sastrawan: Setelah Perintah Bertaqwa, Allah Perintahkan Kita Bersatu

20/08/2026
Pemkab Pesisir Barat Perkuat Tata Kelola dan Inovasi untuk Capai Target SDGs 2030

Pemkab Pesisir Barat Perkuat Tata Kelola dan Inovasi untuk Capai Target SDGs 2030

20/08/2026
clickinfo.co.id

Lampung, Indonesia
Telepon : 081225227939
E-mail : admin@clickinfo.co.id

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.