Clickinfo.co.id – Perspektif dunia usaha dalam global value chain (GVC) menekankan bahwa tantangan Indonesia bukan sekadar meningkatkan partisipasi dalam rantai nilai global, melainkan memastikan keterlibatan tersebut mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Dengan basis manufaktur yang besar dan keterhubungan yang semakin kuat dengan pasar internasional, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam jaringan produksi global. Namun, diperlukan percepatan transformasi industri agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku atau pengguna input produksi, tetapi juga mampu mengembangkan industri komponen, teknologi, dan produk bernilai tambah tinggi.
Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani menyampaikan hal tersebut dalam Australia–Indonesia High-Level Policy Dialogue 2026 bertema “Structural Transformation through Productivity and Industrial Upgrading” yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU) Indonesia Project bersama Bappenas, Senin, 12 Oktober 2026, di Kantor Bappenas.
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu, Ketua Bidang Industri Manufaktur APINDO Adhi Lukman, serta Professor of Economics ANU Prema-chandra Athukorala.
Shinta mengungkapkan, dunia usaha memandang penguatan ekosistem industri yang kompetitif sebagai langkah penting untuk mencapai tujuan tersebut. Upaya ini perlu dilakukan melalui peningkatan kapasitas pemasok domestik, penguasaan teknologi, riset dan inovasi, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja.
Selain itu, efisiensi logistik, penyederhanaan prosedur perdagangan, ketersediaan jasa pendukung industri yang kompetitif, pemenuhan standar internasional, dan optimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan perlu menjadi prioritas. Langkah-langkah tersebut penting untuk memperluas keterlibatan perusahaan Indonesia di pasar global, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat keterkaitan antarpelaku industri di dalam negeri.
Shinta menambahkan, kolaborasi Indonesia dan Australia dapat menjadi katalis untuk memperkuat posisi kedua negara dalam rantai nilai regional dan global. Hal ini dapat diwujudkan melalui pengembangan jaringan pemasok, pertukaran teknologi dan pengetahuan, peningkatan konektivitas perdagangan, serta perluasan akses pasar.
Bagi dunia usaha, keberhasilan integrasi GVC tidak semata-mata diukur dari besarnya aktivitas perdagangan, tetapi juga dari kemampuan Indonesia meningkatkan daya saing industri, memperdalam proses produksi di dalam negeri, dan menangkap nilai tambah yang lebih besar.
Dengan demikian, partisipasi dalam rantai nilai global harus menjadi instrumen untuk mendorong transformasi industri sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan.












