Clickinfo.co.id – Program Studi Farmasi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) memperkenalkan inovasi pemanfaatan kencur (Kaempferia galanga L.) menjadi puding jelly madu sebagai pangan fungsional yang lebih modern, praktis, dan bernilai ekonomi. Inovasi tersebut dikenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis, 23 Juli 2026.
Selama ini, kencur lebih banyak dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan bahan jamu tradisional. Padahal, tanaman rimpang yang mudah ditemukan di pekarangan rumah itu memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan sekaligus dapat dikembangkan menjadi produk pangan inovatif.
Kegiatan yang melibatkan tim dosen Program Studi Farmasi ITERA bersama Himpunan Mahasiswa Farmasi ASCLEGIEIA ITERA tersebut bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap tanaman herbal lokal melalui penyuluhan dan demonstrasi pembuatan puding jelly kencur madu.
Ibu-ibu Tim Penggerak PKK Desa Sabah Balau mengikuti kegiatan dengan antusias. Selain menerima materi, para peserta juga aktif berdiskusi, terlibat langsung dalam proses pembuatan puding jelly, hingga mencicipi hasil olahan yang dibuat bersama.
Materi penyuluhan disampaikan oleh dosen Program Studi Farmasi ITERA, apt. Annisa Nofriani, M.S.Farm. Ia menjelaskan bahwa kencur mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti minyak atsiri, flavonoid, senyawa fenolik, terpenoid, serta etil p-metoksisinamat yang berpotensi sebagai antioksidan dan memiliki aktivitas antiinflamasi.
Menurut Annisa, selama ini kencur identik dengan jamu tradisional yang memiliki aroma dan cita rasa khas sehingga kurang diminati, terutama oleh anak-anak. Melalui inovasi pengolahan menjadi puding jelly, kencur dapat disajikan dalam bentuk yang lebih menarik tanpa mengurangi potensi manfaatnya.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa tanaman herbal lokal tidak harus selalu disajikan dalam bentuk jamu. Dengan inovasi yang sederhana, kencur dapat diolah menjadi pangan yang lebih menarik, mudah diterima oleh berbagai kelompok usia, serta berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Annisa.
Setelah penyuluhan, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan puding jelly kencur madu. Peserta diperlihatkan secara langsung tahapan pembuatan mulai dari proses pengolahan sari kencur, pencampuran bahan, hingga pencetakan puding agar dapat dipraktikkan kembali secara mandiri.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Beragam pertanyaan mengenai teknik pengolahan, variasi rasa, hingga peluang pemasaran produk menjadi bagian dari diskusi yang memperkaya wawasan peserta.
Ketua Himpunan Mahasiswa Farmasi ASCLEGIEIA ITERA, Regan Ghaliyah Bagus Wicaksono, mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah secara langsung kepada masyarakat.
“Kami tidak hanya belajar menyampaikan ilmu, tetapi juga belajar memahami kebutuhan masyarakat. Antusiasme ibu-ibu PKK saat berdiskusi dan mencoba membuat puding jelly kencur menunjukkan bahwa inovasi sederhana berbasis tanaman herbal memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Harapannya, ilmu yang dibagikan hari ini dapat diterapkan di rumah, bahkan menjadi inspirasi lahirnya produk unggulan yang bernilai ekonomi,” ungkap Regan.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara tim dosen Program Studi Farmasi ITERA dan Himpunan Mahasiswa Farmasi ASCLEGIEIA ITERA dengan dukungan Pemerintah Desa Sabah Balau, Tim Penggerak PKK Desa Sabah Balau, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA.
Melalui kegiatan tersebut, tim berharap masyarakat semakin mengenal potensi tanaman herbal lokal sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus sumber inovasi pangan. Selain memberikan manfaat bagi kesehatan keluarga, pengembangan produk berbasis kencur juga diharapkan mampu membuka peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.














