Clickinfo.co.id – Kehilangan gawai pintar atau ponsel saat ini sering kali memicu kepanikan luar biasa bagi pemiliknya.
Melacak lokasi, menghubungi kerabat, hingga rela merogoh kocek dalam-dalam dilakukan demi mendapatkan kembali benda pemenuh gaya hidup digital tersebut.
Namun, sebuah pertanyaan reflektif muncul di tengah pergeseran budaya modern: apakah kepanikan yang sama juga dirasakan saat iman di dalam dada mulai memudar?
Berbeda dengan hilangnya benda fisik yang terjadi seketika, pudarnya keimanan kerap berlangsung senyap dan bertahap. Proses ini sering kali tidak disadari karena terabaikan oleh rutinitas harian yang serbadigital.
Indikasi penurunan itu tampak sederhana namun nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari suara azan yang lebih mudah diabaikan ketimbang bunyi notifikasi, jari-jemari yang lebih aktif menggulir (scrolling) layar daripada membuka kitab suci, hingga munculnya kecemasan berlebih saat kehilangan koneksi internet dibanding kehilangan hubungan dengan Sang Pencipta.
Terkait fenomena kelalaian ini, Al-Qur’an Surat Al-Munafiqun ayat 9 sebenarnya telah memberikan peringatan tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Di era modern, variabel penyembur kelalaian tidak lagi sebatas harta benda konvensional atau keluarga, melainkan beralih pada benda elektronik yang hampir tak pernah lepas dari genggaman tangan manusia.
Ponsel pada dasarnya tidak pernah memaksa penggunanya menjauh dari nilai-nilai spiritual. Namun, benda ini dapat bertransformasi menjadi pemicu utama rapuhnya fokus ibadah jika kondisi hati tidak dijaga dengan batasan yang ketat.
Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis riwayat Muslim juga telah mengingatkan pentingnya menyegerakan kebajikan sebelum datangnya era penuh distrasi dan fitnah:
“Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari masih beriman lalu pada sore hari menjadi kafir… Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.”
Mendahulukan urusan duniawi secara terus-menerus dan konsisten menunda kewajiban spritual menjadi alarm kuat bahwa kiblat prioritas di dalam hati seseorang perlahan mulai bergeser.
Jika ponsel yang rusak atau retak memicu keinginan untuk segera melakukan perbaikan di pusat servis, maka iman yang mulai terkikis semestinya mendapatkan penanganan yang jauh lebih cepat dan mendesak.
Faktanya, gawai yang hilang atau rusak masih dapat dengan mudah diganti dengan unit baru di pasar komersial. Sebaliknya, hilangnya nilai keimanan menjadi kerugian mutlak yang tidak dapat dipulihkan oleh materi apa pun di dunia.











