• Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, Agustus 19, 2026
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Air Mata Tapir di Tepi Hutan yang Menyusut 

IrzonEditorIrzon
04/07/2026
in Opini
A A
Air Mata Tapir di Tepi Hutan yang Menyusut 

Air Mata Tapir di Tepi Hutan yang Menyusut 

Clickinfo.co.id – Vitalnya pembantaian seekor tapir di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, menyisakan kemarahan masyarakat. Peristiwa itu bukan hanya menyayat hati para pecinta satwa liar, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi wajah konservasi alam di Indonesia.

Saya tidak pernah membenarkan tindakan empat orang yang diduga membunuh satwa dilindungi tersebut. Jika terbukti bersalah melalui proses hukum yang adil, mereka memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Negara tidak boleh memberi toleransi terhadap perburuan dan pembunuhan satwa yang dilindungi.

Namun, di balik kemarahan masyarakat terhadap para pelaku, ada pertanyaan yang jauh lebih besar yang seharusnya juga dijawab oleh negara.

ArtikelTerkait

RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

Ketika Presiden Sendiri Harus Mengadu, Angin Segar bagi Demokrasi dan Pencari Keadilan

Mengapa seekor tapir bisa keluar dari habitatnya hingga memasuki wilayah aktivitas manusia?

Pertanyaan itu tidak boleh berhenti sebagai pertanyaan retoris. Sebab, di sanalah akar persoalan yang sesungguhnya.

Informasi yang disampaikan aparat menyebutkan bahwa tapir tersebut sebenarnya telah terpantau dan akan dievakuasi oleh petugas konservasi.

Sayangnya, sebelum proses penyelamatan dilakukan, satwa itu lebih dahulu diburu, dibunuh, kemudian dipotong-potong oleh sekelompok warga yang berdalih hendak mengonsumsinya.

Alasan bahwa pelaku tidak mengetahui status perlindungan tapir tentu tidak serta-merta menghapus tanggung jawab hukum mereka. Dalam prinsip hukum, ketidaktahuan terhadap undang-undang bukanlah alasan pembenar.

Akan tetapi, sebagai bangsa yang ingin membangun sistem konservasi yang kuat, kita juga tidak boleh berhenti hanya pada penghukuman.

Negara harus berani melakukan introspeksi. Seekor tapir bukanlah makhluk yang tiba-tiba memilih hidup di tengah permukiman manusia. Satwa liar memiliki naluri yang sangat kuat untuk bertahan hidup di habitat alaminya. Mereka keluar dari hutan biasanya karena ruang hidupnya semakin sempit, sumber makanan berkurang, atau kawasan hutan mengalami tekanan yang terus meningkat akibat aktivitas manusia.

Di sinilah persoalan konservasi menjadi jauh lebih kompleks daripada hanya menangkap pelaku perburuan.

Kerusakan hutan, pembukaan lahan, fragmentasi kawasan konservasi, perambahan, hingga lemahnya pengawasan terhadap kawasan hutan merupakan faktor-faktor yang secara ilmiah telah lama diidentifikasi sebagai penyebab meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar.

Semakin sempit hutan, semakin besar peluang satwa memasuki kebun, ladang, bahkan permukiman.

Ironisnya, ketika satwa datang ke wilayah manusia, yang sering terjadi justru satwanya yang disalahkan.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, manusialah yang lebih dahulu mempersempit ruang hidup mereka.

Tapir hanyalah salah satu korban. Sebelumnya, berbagai konflik juga terjadi pada gajah, harimau, beruang madu, hingga primata yang kehilangan habitat akibat perubahan bentang alam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa konservasi tidak cukup hanya dilakukan melalui penegakan hukum setelah satwa terbunuh.

Konservasi harus dimulai sejak hutan masih berdiri.

Pemerintah memang telah memiliki berbagai regulasi yang mengatur perlindungan satwa dan kawasan hutan. Namun, regulasi yang baik akan kehilangan makna apabila implementasinya lemah.

Perlindungan hutan tidak boleh hanya menjadi slogan dalam dokumen perencanaan pembangunan. Perlindungan tersebut harus hadir dalam pengawasan lapangan, penataan ruang yang konsisten, rehabilitasi kawasan rusak, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, serta pendidikan lingkungan yang berkelanjutan.

Masyarakat juga tidak boleh diposisikan semata-mata sebagai objek penindakan hukum. Banyak warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan hidup dalam keterbatasan informasi mengenai satwa yang dilindungi.

Di sisi lain, mereka juga berhadapan langsung dengan konflik satwa yang terkadang merusak tanaman atau mengancam keselamatan.

Karena itu, edukasi harus berjalan berdampingan dengan penegakan hukum. Negara tidak boleh hanya hadir ketika hendak menangkap pelaku.

Negara juga harus hadir untuk mencegah konflik itu sejak awal. Kasus di Register 45 seharusnya menjadi momentum evaluasi nasional mengenai tata kelola kawasan hutan.

Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar perlindungan habitat satwa benar-benar menjadi prioritas, bukan cuma respons setelah muncul tragedi yang viral di media sosial.

Keberhasilan konservasi bukan diukur dari banyaknya orang yang dipenjara karena membunuh satwa, melainkan dari semakin sedikitnya konflik antara manusia dan satwa liar.

Artinya, hutan tetap lestari, satwa tetap hidup di habitatnya, dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas tanpa rasa takut.

Tapir yang mati di Mesuji tidak akan hidup kembali.

Namun, kematiannya seharusnya menjadi pengingat bahwa alam sedang mengirimkan pesan kepada kita.

Ketika satwa mulai kehilangan rumahnya, sesungguhnya manusialah yang sedang kehilangan keseimbangan hidupnya.

Atas dasar itu, demi menjaga kewibawaan pemerintah, kehormatan rakyat, dan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah saatnya negara tidak hanya tegas menghukum pembunuh satwa yang dilindungi, tetapi juga menunjukkan keberanian politik dan kesungguhan dalam menjaga hutan sebagai rumah bagi seluruh keanekaragaman hayati Indonesia.

Sebab, melindungi satwa tanpa melindungi habitatnya hanyalah menyelesaikan akibat, bukan akar masalah.

 

Bandar Lampung, 4 Juli 2026

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketum Poros Wartawan Lampung

Tags: Junaidi IsmailPembantaian Tapir MesujiPoros Wartawan LampungRegister 45
Previous Post

GPL Awards 2026 Sukses Digelar, Apresiasi Para Penggerak Pendidikan Muda di Lampung

Next Post

Diduga Ada Rekayasa Jarak Domisili SPMB, Wali Murid di Tanggamus Tuntut Keadilan

Related Posts

RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

19/08/2026
Ketika Presiden Sendiri Harus Mengadu, Angin Segar bagi Demokrasi dan Pencari Keadilan

Ketika Presiden Sendiri Harus Mengadu, Angin Segar bagi Demokrasi dan Pencari Keadilan

18/08/2026
Merawat Damai, Menjaga Aceh 

Merawat Damai, Menjaga Aceh 

17/08/2026
IKN Tak Disebut, Bukan Berarti Ditinggalkan

IKN Tak Disebut, Bukan Berarti Ditinggalkan

16/08/2026
Ayat Suci Bukan Alat Promosi Miras

Ayat Suci Bukan Alat Promosi Miras

15/08/2026
Konflik Agraria Jangan Dibiarkan Menjadi Bom Waktu Investasi

Konflik Agraria Jangan Dibiarkan Menjadi Bom Waktu Investasi

14/08/2026
Next Post
Diduga Ada Rekayasa Jarak Domisili SPMB, Wali Murid di Tanggamus Tuntut Keadilan

Diduga Ada Rekayasa Jarak Domisili SPMB, Wali Murid di Tanggamus Tuntut Keadilan

Wawan Tohir Balaw Minta Struktur PRI di Lampung Aktif Bergerak, Bukan Sekadar di Atas Kertas

Wawan Tohir Balaw Minta Struktur PRI di Lampung Aktif Bergerak, Bukan Sekadar di Atas Kertas

Bangun Budaya Kerja Solid, Pegawai Lapas Kotaagung Gelar Dinamika Kelompok

Bangun Budaya Kerja Solid, Pegawai Lapas Kotaagung Gelar Dinamika Kelompok

Luka Lama Politik atau Bagi-Bagi Warisan yang Mubazir

Luka Lama Politik atau Bagi-Bagi Warisan yang Mubazir

Anggota DPR RI Mukhlis Basri Apresiasi Tradisi Bersih Desa di Tambahrejo Gadingrejo

Anggota DPR RI Mukhlis Basri Apresiasi Tradisi Bersih Desa di Tambahrejo Gadingrejo

Semarak HUT ke-81 RI, Bupati Saleh Asnawi Ajak Warga Kota Agung Perkuat Persatuan
Tanggamus

Semarak HUT ke-81 RI, Bupati Saleh Asnawi Ajak Warga Kota Agung Perkuat Persatuan

EditorAidiland1 others
19/08/2026

Clickinfo.co.id – Suasana Taman Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Rabu, 19 Agustus 2026, berlangsung meriah. Ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk...

Read more
Buntut Dugaan Kekerasan di Ratu Karaoke Pulung Kencana, Ketua JWI Tubaba Minta Polisi Periksa Saksi dan CCTV

Buntut Dugaan Kekerasan di Ratu Karaoke Pulung Kencana, Ketua JWI Tubaba Minta Polisi Periksa Saksi dan CCTV

19/08/2026
RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

RUU Perampasan Aset, Ujian Nyata Keberanian Negara

19/08/2026
Bupati Askolani Tinjau Distribusi Air Bersih Merah Mata-Kenten Laut

Bupati Askolani Tinjau Distribusi Air Bersih Merah Mata-Kenten Laut

18/08/2026
Bupati Dedi Irawan Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya dan Warisan Leluhur

Bupati Dedi Irawan Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya dan Warisan Leluhur

18/08/2026
clickinfo.co.id

Lampung, Indonesia
Telepon : 081225227939
E-mail : admin@clickinfo.co.id

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.