Clickinfo.co.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menegaskan pentingnya mencetak lebih banyak wirausaha dan pendiri usaha (founders) sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Penegasan ini disampaikan dalam acara Kick Off dan Press Conference Diplomat Success Challenge (DSC) Season 17 yang digelar di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman, serta sejumlah pengurus APINDO. Hadir di antaranya Wakil Ketua Umum APINDO Sanny Iskandar, Wakil Sekretaris Umum APINDO Anggana Bunawan, Wakil Ketua Bidang UMKM dan Koperasi APINDO Arief Budiman, Wakil Ketua Bidang Perdagangan APINDO Jahja B. Soenarjo, Pengurus Bidang UMKM dan Koperasi APINDO Lishia Erza dan Lany Harijanti, serta Direktur Eksekutif APINDO Rudolf Saut.
Menteri UMKM RI, Maman Abdurrahman, menilai apa yang dilakukan Wismilak melalui DSC sejalan dengan konsep Corporate Business Responsibility (CBR), yakni mendorong dunia usaha untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa makin banyak entrepreneur yang tumbuh dan berkembang, makin besar pula peluang Indonesia menjadi negara maju.
Sementara itu, Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, mengatakan bahwa tema Founders of Indonesia sangat relevan dengan kebutuhan bangsa saat ini, mengingat Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur dan inovator yang mampu melihat peluang di tengah berbagai tantangan dan ketidakpastian ekonomi. Menurutnya, selama 17 tahun penyelenggaraannya, DSC telah berkembang dari sekadar ajang kompetisi menjadi sebuah ekosistem yang melahirkan dan menempa para wirausaha masa depan.
“The strongest founders are not those who avoid uncertainty, but those who learn to navigate it,” ujar Shinta.
Shinta menambahkan, peran UMKM sangat strategis bagi perekonomian nasional karena menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja, berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyumbang lebih dari 60 persen total investasi di Indonesia. Namun, tantangan yang dihadapi UMKM masih besar, mulai dari akses pembiayaan, pasar, hingga teknologi.
Berdasarkan Survei Roadmap Perekonomian APINDO, sebanyak 51 persen UMKM masih menghadapi keterbatasan akses keuangan dan modal, lebih dari 80 persen masih mengandalkan pendanaan pribadi, dan hanya sekitar 9 persen yang memiliki akses terhadap teknologi serta alat produksi yang memadai.
Menurut Shinta, kondisi tersebut menunjukkan bahwa para founder tidak hanya membutuhkan ide yang besar, tetapi juga ekosistem yang tepat untuk dapat bertumbuh dan bersaing. Oleh karena itu, APINDO terus memperkuat berbagai inisiatif kolaboratif, termasuk melalui Indonesia Open Network (ION) dan Program UMKM Merdeka yang telah menjangkau lebih dari 50 ribu UMKM di berbagai daerah.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT Wismilak Inti Makmur Tbk sekaligus Ketua Bidang UMKM dan Koperasi APINDO, Ronald Walla, mengatakan bahwa DSC dibangun sejak 17 tahun lalu dengan keyakinan untuk melahirkan generasi entrepreneur yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan berdaya saing. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar UMKM saat ini adalah keterbatasan akses pasar dan informasi, sehingga kehadiran ION diharapkan dapat menjadi jembatan bagi para pelaku usaha untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.











