Clickinfo.co.id — Senin (14/9/2026) pagi, tim SAR gabungan melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan demi menemukan dan mengevakuasi korban hilang kontak hingga terbalik dan tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 rute Surabaya-Banjarmasin di sekitar perairan Masalembo Laut Jawa, Ahad (13/9/2026).
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Heri Purwanto, melalui taklimat media disiarkan Ahad, turut menjelaskan kronologi awal kejadian musibah.
Dalam perjalanannya usai bertolak dari Pelabuhan Surabaya pada Sabtu (12/9/2026) pukul 06.52 WIB tujuan Pelabuhan Banjarmasin, kapal yang dinakhodai Arief Yunianto dan dioperasikan oleh korporat jasa pelayaran PT Virgo Karya Shipping (VKS) ini melaporkan menghadapi cuaca buruk, Ahad dini hari pukul 01.00 WIB.
Lebih lanjut kapal mengalami kondisi listing (miring ke atas) dan kehilangan kontak di sekitar perairan Masalembo, Laut Jawa pada 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 WITA.
Kemudian, pada pukul 04.10 WIB, general manager kapal melaporkan kejadian tersebut ke Kantor SAR Banjarmasin untuk mendapatkan bantuan pencarian dan pertolongan.
Berselang 20 menit kemudian, Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan 1 tim menggunakan KN SAR Laksmana 241 menuju Dermaga SAR Basirih selanjutnya menuju titik terakhir kapal tersebut dilaporkan hilang kontak. Estimasi waktu tempuh dari dermaga ke lokasi, 5 jam perjalanan.
Seketika laporan didapatkan, Basarnas Command Center (BCC) juga telah langsung mengirimkan pesan (broadcast) radio ke seluruh saluran di kawasan dan juga mengirim peta prediksi digital untuk dasar pelaksanaan SAR.
Efektif, salah satunya buktinya kemudian yakni sekonyong bergeraknya kapal tanker MT Mauhau IX milik PT Pertamina Patra Niaga yang tengah berlayar dari Banjarmasin menuju Tuban, Jawa Timur, untuk bergegas menuju titik koordinat petunjuk, seusai nahkoda dan kru kapal menerima informasi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 melalui radio VHF.
Alhasil kapal tanker ini berhasil menemukan, memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi 16 orang termasuk sang nakhoda KMP Virgo Transport 8, Arief Yunianto.
Menggenapinya, menggenapi keterangan Heri Purwanto dengan menyitat keterangan konferensi pers Kepala Kantor Basarnas Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana selaku SAR Mission Coordinator, titik koordinat lokasi terakhir kapal berbendera Indonesia berukuran 8.540 gross ton (GT) ini hilang kontak berada di 4°31’51.82″S 114° 2’6.88″E Heading 203.94° yang berjarak kurang lebih 80 nautical mile (NM) atau mil laut, atau tadi, sekitar 5 jam perjalanan dari Dermaga SAR Basirih Banjarmasin.
Menjadi bagian keterangan resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Heri Purwanto mengungkap bahwa berdasar data manifes, kapal naas itu membawa 241 orang. Meliputi 30 kru, 27 mitra kerja kapal, 59 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak, serta 124 sopir dan kernet. Plus 89 unit kendaraan.
Sebagai pencermatan, merujuk data lain total jumlah orang yang berada di kapal saat kejadian, ada yang menyebut 243 orang. Artinya jika merujuk data keterangan Heri Purwanto yang mendasari pada data manifes penumpang, terdapat selisih jumlah atau dalam kalimat sementara lahir informasi baru yang masih patut dicek keabsahannya, bahwa andai benar total jumlahnya memang 243 orang maka terdapat dua orang anonim di luar data manifes. Namun sebagai penafian (disclaimer), kepastian soal ini mesti menantikan keterangan resmi hingga seluruh korban diketemukan.
Sadar bencana, Heri dan jajaran Kantor KSOP Kelas I Banjarmasin bergegas merespon cepat laporan insiden. “Fokus dan prioritas utama kami saat ini ialah keselamatan seluruh pihak yang berada di atas kapal melalui pengerahan operasi penyelamatan terkoordinasi,” tegas Heri, pihaknya langsung lakukan sejumlah langkah penanganan darurat.
Antara lain, dengan dirikan posko di Terminal Penumpang Bandarmasih Pelabuhan Trisakti Banjarmasin untuk fokus penanganan serta membangun koordinasi intensif terkait mulai dari Basarnas, BUP PT. Pelindo, Kantor Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Banjarmasin (VTS), Kepanduan PT. Pelindo III Banjarmasin, keagenan kapal, hingga pihak keluarga.
Adapun, unsur SAR gabungan bersama Kantor Basarnas Banjarmasin dibantu kapal-kapal yang pada saat kejadian berada sekitar lokasi kejadian (KM. Hai Da, MT. Mauhau IX, dan TB. TCP), serta dibantu pula untuk evakuasi korban oleh Kapal Negara Kenavigasian KN Kunyit milik Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Banjarmasin yang turut dikerahkan berjibaku upaya pencarian dan pertolongan hingga penyelamatan korban serta upaya lain-lain penanggulangan di lapangan.
Dari proses penanganan awal tersebut, 143 penumpang telah berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat maupun dengan mendapatkan perawatan medis, sementara proses pencarian dan pendataan lebih lanjut terus berlangsung.
Enggan berspekulasi terkait dugaan sementara penyebab kecelakaan baik dari faktor alam (cuaca buruk), faktor teknis, maupun faktor manusia serta dampak terhadap muatan, potensi pencemaran lingkungan, dan harta benda lainnya, Heri menyatakan itu masih dalam tahap investigasi otoritas serta konfirmasi lanjutan.
Secara berkala, KSOP Utama Tanjung Perak, Surabaya, dan KSOP Kelas I Banjarmasin terus memantau perkembangan penanganan insiden, dan memperbarui informasi kepada masyarakat seiring progres lapangan.
Ahad siang pukul 12.00 WITA, Basarnas Banjarmasin melaporkan dari 241 orang data manifes, baru 103 yang berhasil ditemukan, dievakuasi, diberi pertolongan pertama SAR gabungan untuk selanjutnya dibawa ke Banjarmasin. Terdapat 6 orang di antaranya dinyatakan meninggal.
Di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Menteri Perhubungan Dudy Purwaghandy memantau langsung proses evakuasi. Sempat sebelumnya sebagian penumpang dikabarkan akan dievakuasi ke Tuban, Jawa Timur, namun dengan berbagai pertimbangan teknis utama akhirnya dibatalkan dan seluruh penumpang ditemukan lalu dievakuasi menuju Banjarmasin.
Hingga Ahad petang, empat jam kemudian, yang berhasil ditemukan dan dievakuasi bertambah. Dari 6 orang yang dievakuasi kapal TB TCP: 1 selamat dan 5 meninggal. Dari 16 orang dievakuasi kapal TB Mauhau: 14 selamat, 1 cedera berat, 1 meninggal. Lalu 69 orang yang dievakuasi MV Haida dan 62 orang dievakuasi KM Cahaya Bahari semua selamat.
Terangkum lainnya, segera meluasnya bala bantuan armada gabungan lintas area guna dukung operasi pencarian dan penyelamatan korban, terbujur misal dengan pengerahan tiga Kapal Polisi milik Korps Polairud Baharkam Polri yakni KP Laksmana-7012 dari Kalimantan Selatan dengan jarak tempuh ke lokasi kejadian sekitar 80 mil laut dengan estimasi masa tempuh 7 jam, KP Ibis-6001 dari Kalimantan Tengah dengan jarak tempuh sekitar 103 mil laut dan estimasi masa tempuh 9 jam, KP Manyar-5003 dari Surabaya dengan jarak tempuh sekitar 200 mil laut dan estimasi masa tempuh 24 jam.
Mabes Polri juga turut mengerahkan tim DVI (Disaster Victim Identification) Polri dengan enam posko di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, tim khusus penyelamatan dari Ditpolairud Polda Jawa Timur dan Ditpolairud Polda Kalimantan Selatan, dirikan Posko Pelayanan Pengaduan oleh Polres Pelabuhan Tanjung Perak di Pelabuhan Penumpang Gapura Surya Nusantara, Tanjung Perak berkoordinasi dengan Polres Pelabuhan Banjarmasin dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin terkait penanganan dan evakuasi.
“Polri juga membuka layanan informasi dan pengaduan melalui Call Center 110 serta layanan Polres Pelabuhan Tanjung Perak di nomor 081918600000,” siaran pers Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko di Jakarta, Ahad.
Lainnya, TNI Angkatan Laut (AL) yang juga mengerahkan sejumlah unsur laut dan udara, dukung operasi pencarian dan pertolongan terhadap KMP Virgo Transport 8.
Menyitat siaran pers Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul di Jakarta, Ahad, dalam operasi terpadu ini TNI AL mengerahkan empat kapal perang yakni KRI Canopus-936, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Nala-363, dan KRI Pulau Fani-732. Juga satu kapal KAL Kumai II-13-51, pesawat terbang CN-235 MPA P-8301, serta helikopter AS 365 N3+ dan Helly Panther.
“TNI Angkatan Laut berkomitmen untuk terus mengerahkan kemampuan terbaiknya dalam mendukung operasi kemanusiaan hingga seluruh korban berhasil ditemukan, sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat sesuai tugas TNI AL dalam operasi militer selain perang,” lugas Kadispenal Laksamana Pertama TNI Tunggul, unsur-unsur tersebut bersinergi dengan Kantor SAR Banjarmasin, KSOP, Distrik Navigasi, Pelindo, dan Lanal Banjarmasin.
Selain Menhub Dudy Purwagandhi dan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, jajaran Forkopimda Kalimantan Selatan termasuk Danlanal Banjarmasin Kolonel Laut (P) Galih Nurna Putra juga turut memantau sepanjang operasi gabungan berlangsung, memaksimalkan penyisiran laut dan dukungan pemantauan udara oleh unsur TNI AL dan SAR gabungan itu.
Kendati, atas pertimbangan cuaca buruk dan gelombang laut tinggi bahkan hingga setinggi lima meter yang justru dapat membahayakan, operasi gabungan lalu diputuskan dihentikan sementara untuk dilanjutkan pada Senin pagi ini.
Dan dilaporkan, kapal penyelamat yakni MV Mauhau IX yang mengangkut 16 orang terdiri dari 15 penyintas selamat dan satu penyintas meninggal dunia, telah tiba dengan selamat sandar di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Senin pukul 07.15 WITA. Burat muram hati tersayat sembilu demi mendapati tubuh orang terdekat tersayang membujur kaku, menjadi pemandangan suasana pilu para keluarga korban.
Dengan bertambahnya ini praktis hingga Senin pukul 08.00 WITA, data sementara Basarnas merincikan dari total jumlah penyintas musibah, yang telah ditemukan dan terevakuasi sebanyak 113 orang dengan enam di antaranya meninggal.
Sedangkan sebanyak 130 orang masih dinyatakan hilang dan tengah terus dalam proses pencarian.
MIRING CEPAT, DIHANTAM OMBAK DARI SEGALA ARAH
Sejumlah penumpang selamat menuturkan kesaksian pilu, kisah detik-detik menegangkan cekam situasi crowded sesaat sebelum kapal miring hingga benar-benar terbalik lantas kemudian bersegera dihantam ombak dari segala arah, hingga saat harus meloncat ke arah perahu karet, hingga sekitar tiga jam lamanya bertahan di tengah laut dan hingga pucuk dicinta bala bantuan Tuhan pun tiba.
Dari beragam sumber terhimpun, situasi dalam kapal pada Sabtu malam itu, sebagian penumpang laki-laki berada di area non kamar. Mereka terpencar di sejumlah area terbuka seperti di dek dan kabin, untuk sekadar menggeletakkan diri, merebahkan badan, atau sembari duduk memejamkan mata mengistirahatkan tubuh.
Sebaliknya, mayoritas penumpang perempuan dan kaum ibu berada mendominasi di area kamar terutama di kelas ekonomi untuk senada beristirahat.
Kepada awak pers yang mewawancarai di posko darurat penanganan korban di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, sejumlah penumpang pria korban selamat menuturkan, kapal sudah bergerak miring ke kiri dengan begitu cepat, pada saat hari masih gelap. Kemiringan kapal ke sisi kiri dikarenakan faktor beban muatan kapal yang antara lain mengangkut truk-truk fuso. Bergesernya badan truk-truk fuso ini ke arah kiri tak ayal berimbas pada terganggunya keseimbangan badan kapal yang laju ikut miring ke kiri.
“Miringnya itu cepet banget, karena truk fuso-truk fuso itu kan larinya ke kiri, akhirnya ya (kapal pun ikut miring ke kiri). Saya sendiri juga ngikutin kapal aja. Kapal miring, pegangan dulu di atas kapal. Abis gitu kapal miring, langsung naik ke ujungnya kapal yang bawah itu. (menegaskan kebenaran informasi cuaca buruk dengan gelombang laut riskan saat kejadian) Ombaknya samping kanan kiri,” ujar penumpang pria korban selamat asal Surabaya, pengusaha otobus di Kota Banjarbaru, ibukota baru Kalimantan Selatan, tempat menetapnya kini, Ahmad Saudi.
Dirinya baru tersadar, usai begitu dia ikut terbangun dari tidurnya di sofa panjang area kabin, keheranan lantaran banyak penumpang yang berhamburan. “Nyawa belum juga kumpul”, dia kilat bertanya kepada mereka kenapa ada apa. Begitu dijawab kapal miring diapun terkejut bukan kepalang dan spontan bergerak bangun dan berdiri dan benar saja.
Sadar miring, gelegar insting selamatkan diri menghinggapi dirinya yang tertidur namun segera terjaga, maupun para penumpang yang saat kejadian memilih untuk tidak tidur, atau kesemua penumpang yang kemudian berupaya untuk melakukan tindakan darurat penyelamatan hingga selamat.
Sejumlah penumpang kemudian berinisiatif cepat mengikuti arah berlawanan dari kemiringan kapal. Bagi penumpang korban selamat, momen dramatis kemiringan kapal hingga menjadi sangat miring dalam kurun singkat hingga tak ayal terbalik lalu hingga kemudian sebagian badan kapal ikut berangsur tenggelam, menjadi ingatan kelam. Bertaruh nyawa sekian jam.
Hingga para penumpang semisal Ahmad Saudi, yang bersama 14 penumpang lainnya minus perempuan berhasil diselamatkan dievakuasi oleh awak kapal MV Haida saat hari masih gelap sebelum sang surya menyapa terbit.
“Masih gelap. Alhamdulillah kami ada 15 semua selamat,” tutur Ahmad Saudi, yang harus merelakan unit bus yang baru dipesan dan dibawanya dari Surabaya, ikut tenggelam.
Dia menuturkan pengakuan bernada dugaan masuk akal. Saat kejadian khususnya saat kapal miring ujar dia, banyak di antara penumpang yang mayoritas kaum perempuan yang masih berada di dalam kamar-kamar kelas ekonomi.
Ahmad Saudi menduga, mereka rerata terjebak di dalam, dan kesulitan untuk menyelamatkan diri. Berbeda halnya dengan sementara penumpang laki-laki terutama mereka yang pada saat kapal mulai hingga terus miring, tengah berada atau kontan terjaga dari tidurnya di luar area kamar dan dengan segera dapat menyelamatkan diri.
“Nah yang lainnya, mereka ibu-ibu yang sedang berada di kamar ekonomi ya, (saya duga) itu mungkin nggak selamat karena kapal ini terlalu cepat miringnya. Sedangkan alarm pemberitahuan tanda bahaya aja (seingat saya) nggak ada. Nggak ada tanda-tanda. (Penumpang yang berhasil) keluar ini kan supir-supir aja, laki-laki. Sementara mereka yang berada di kamar-kamar itu belum bisa keluar,” tuturnya pilu.
Sementara, penumpang lain ada yang mengungkapkan, saat kejadian tak sedikit pula dari penumpang kapal yang kabarnya merupakan kapal bekas Jepang ini yang tidak mengenakan ataupun belum sempat mengenakan jaket pelampung keselamatan.
Sembari tetap dengan prioritas utama dan pertama fokus awal operasi SAR gabungan ini menarget seluruh korban musibah dapat ditemukan dan dievakuasi, senada Heri Purwanto terkait spekulasi berkembang seputar faktor penyebab hingga bagaimana bentuk pertanggungjawaban terhadap keselamatan seluruh korban —ke arah mana, jari telunjuk mesti ditudingkan, Menhub Dudy Purwaghandy yang tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin guna turut memantau langsung jalannya evakuasi korban, menyebut bahwa pemerintah akan melakukan investigasi menyeluruh.
Sebagaimana terpantau di sejumlah jejaring media sosial, publik warganet disamping turut menyampaikan bela rasa, belasungkawa sedalam-dalamnya serta melayangkan doa terbaik untuk seluruh penyintas musibah juga seluruh pihak keluarga korban yang ditinggalkan serta tim penyelamat.
Sebagian adapula mulai dari yang mempertanyakan campur penasaran, hingga menyorongkan pertanyaan sekaligus pernyataan bernada menggugat terkait keselamatan dan keamanan pelayaran, menyoroti soal kelengkapan dokumen perizinan pelayaran dan peralatan keselamatan, hingga soal kelaiklautan operasional KMP Virgo Transport 8 dimaksud.
Lainnya adapula yang menaruh curiga, jejangan kapal saat berlayar kelebihan beban muatan dari yang semestinya sesuai ketentuan. Serta pelbagai purwarupa kalimat tanya yang pada dasarnya mengekspresikan besarnya atensi publik terhadap peristiwa naas yang sudah barang tentu sama sekali tak ada yang menginginkannya terjadi itu.
Keluarga besar Clickinfo.co.id turut berbela rasa. Semoga seluruh kru dan ABK, penumpang, sopir dan kernet yang diangkut kapal ini dapat ditemukan dan dievakuasi, seluruh penyintas selamat segera pulih jasmani kembali sekaligus pulih trauma, seluruh keluarga korban diberikan curahan rahmat keikhlasan ketabahan, seluruh tim SAR gabungan diberikan totalitas kekuatan dan perlindungan keselamatan sepanjang bertugas ditengah gelagat cuaca yang masih kunjung enggan bersahabat.
Dan Bumi Indonesia, dijauhkan dari segala macam bencana. “Avignam Jagad Samagram”, semoga selamatlah alam semesta. Aamiin.













