Clickinfo.co.id – Penyakit rabies masih menjadi ancaman serius bagi manusia maupun hewan karena menyerang sistem saraf pusat dan dapat berakibat fatal apabila gejala klinis telah muncul. Namun, rabies sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi dan penanganan cepat setelah terjadi paparan.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Sumatera Selatan, drh. H. Alfin Suhanda, menjelaskan penyakit rabies, mulai dari penyebab, cara penularan, gejala, hingga langkah pencegahan yang perlu diketahui masyarakat.
Alfin menjelaskan, rabies merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dari kelompok Lyssavirus dalam keluarga Rhabdoviridae. Virus tersebut dapat menular melalui air liur hewan yang terinfeksi, terutama melalui gigitan, cakaran, maupun jilatan pada kulit yang terluka atau selaput lendir.
Hewan yang paling dikenal sebagai penular rabies adalah anjing. Namun, masyarakat juga perlu mewaspadai mamalia lainnya, seperti kucing, kera, kelelawar, serta hewan liar yang tidak diketahui kondisi kesehatannya.
“Rabies ini penyakit yang sangat berbahaya karena menyerang sistem saraf pusat dan ketika gejala klinis sudah muncul, hampir selalu berakibat fatal. Tetapi yang perlu kita pahami, rabies sebenarnya sangat bisa dicegah. Karena itu, jangan menunggu muncul gejala. Kalau seseorang digigit atau dicakar hewan yang berisiko, segera cuci lukanya dengan sabun dan air mengalir selama 10 sampai 15 menit, kemudian segera datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” ujar Alfin.
Pada manusia, masa inkubasi rabies dapat berlangsung cukup lama, mulai sekitar dua minggu hingga dua tahun, dengan rata-rata tiga hingga delapan minggu. Gejala awal dapat berupa demam, sakit kepala, lemas, mual, hingga rasa nyeri atau kesemutan di sekitar lokasi gigitan.
Seiring perkembangan penyakit, gejala dapat berlanjut menjadi gangguan pada sistem saraf, seperti kebingungan, halusinasi, perubahan perilaku, air liur berlebih, serta ketakutan terhadap air atau hidrofobia.
Kondisi tersebut sangat berbahaya karena ketika gejala klinis rabies sudah muncul, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal.
Karena itu, menurut Alfin, pertolongan pertama setelah terjadi paparan menjadi sangat penting. Luka akibat gigitan atau cakaran harus segera dicuci menggunakan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit, kemudian diberikan antiseptik seperti povidone iodine.
Korban juga harus segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan untuk menentukan kebutuhan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan, bila diperlukan, Serum Anti Rabies (SAR).
“Jangan panik, tetapi jangan pula menunda. Segera bersihkan luka dan periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Lebih baik kita melakukan pencegahan dan pemeriksaan sejak awal daripada menyesal ketika sudah terlambat,” tegasnya.
Vaksinasi Hewan Jadi Langkah Utama
Alfin juga mengingatkan bahwa pencegahan rabies tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan kepedulian bersama, terutama dari pemilik hewan peliharaan.
“Kami mengimbau masyarakat yang memelihara anjing, kucing maupun hewan penular rabies lainnya agar melakukan vaksinasi secara rutin. Hewan peliharaan juga sebaiknya tidak dibiarkan berkeliaran bebas. Jangan mencoba menangani sendiri hewan yang menunjukkan perilaku tidak normal, dan hindari kontak dengan hewan liar yang tidak diketahui kondisi kesehatannya,” katanya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci dalam memutus mata rantai penularan rabies.
Setidaknya ada tiga langkah utama yang perlu terus diingat masyarakat, yakni melakukan vaksinasi rutin pada hewan peliharaan, menghindari kontak dengan hewan liar atau hewan yang tidak dikenal, serta segera mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir setelah terjadi gigitan atau cakaran.
Dengan pengetahuan yang tepat dan tindakan cepat, risiko rabies dapat ditekan. Masyarakat diharapkan tidak menunggu hingga kondisi memburuk untuk mendapatkan pertolongan karena dalam kasus rabies, kecepatan penanganan setelah paparan sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih fatal.











