• Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, Februari 4, 2026
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Unila
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Lampung
    • DPRD Kota
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Unila
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Lampung
    • DPRD Kota
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Lampung, antara yang Didengar dan yang Dilupakan

Clarissa Editor Clarissa
02/02/2026
in Opini
A A
Lampung, antara yang Didengar dan yang Dilupakan

Ali Rukman, praktisi pemberdayaan masyarakat. Foto: Ist

Clickinfo.co.id — SEBUAH video pendek kadang bekerja lebih cepat daripada buku sejarah. Ia melompat dari layar ke emosi, dari pengalaman pribadi ke kesimpulan umum. Begitulah yang terjadi ketika sebuah unggahan TikTok dari akun TY hari ini memantik percakapan luas, bahkan ada pula yang menanggapinya dengan sangat emosional.  Lampung disebut sebagai “Jawa Cabang Sumatra” karena yang dia dengar dan jumpai ketika ke Lampung bukan bahasa Lampung, melainkan bahasa Jawa.

Barangkali TY hanya mengatakan apa yang ia dengar. Barangkali ia tidak sedang menilai, hanya mencatat. Namun persoalannya, apa yang terdengar tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya hidup. Dan Lampung, sejak lama, hidup di antara keduanya.

Sangat mungkin TY hanya menjejakkan kaki di Lampung-Lampung tertentu: wilayah yang dihuni oleh mereka yang datang melalui gelombang panjang transmigrasi. Di ruang-ruang itu, bahasa Jawa memang bernapas sehari-hari, simbol Jawa menempel akrab, dan ingatan kolektif tentang asal-usul masih dijaga rapat. Jika demikian, pengalaman TY bukanlah kesalahan, melainkan potongan kecil dari sejarah yang jauh lebih luas.

ArtikelTerkait

Lingkar Gotong Royong: Support System Hidup Manusia di Tengah Zaman yang Terfragmentasi

Pencabutan HGU SGC, Antara Penegakan Hukum dan Stabilitas Pasar Gula

Lampung adalah halaman pertama dari kisah transmigrasi Indonesia. Pada November 1905, di Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memindahkan 155 kepala keluarga dari Kedu, Bagelen, dan Karanganyar.   Sekitar seribu jiwa membuka hutan, membuka ladang, dan membuka bab baru bagi Lampung.  Sejak itu, manusia, bahasa, dan nama tempat berbaur—kadang saling menyapa, kadang saling meniadakan.

Hingga hari ini, jejak itu masih jelas terbaca. Bambu Seribu menjadi Pringsewu, Sukarami menjadi Sukarame, Way Handak menjadi Kalianda, Kuta Dalom menjadi Kota Dalam dan banyak lagi.   Nama-nama dari Jawa tumbuh subur di tanah Sumatra. Di banyak tempat, bahasa Jawa tetap menjadi rumah utama, meski generasi telah berganti. Ini bukan salah siapa-siapa. Sejarah memang sering kali berjalan tanpa sempat diajak berbincang.

Namun justru di sini pertanyaan pelan perlu diajukan: Mengapa mereka yang lahir dan besar di Lampung tak selalu menemukan kebutuhan untuk berbahasa Lampung? Mengapa simbol lokal sering menjadi pelengkap, bukan pusat? Seringkali ketika berada di Lampung mengaku orang jawa tetapi ketika sedang main ke rumah saudara di Jawa mengaku orang Lampung? Dan lebih jauh, mengapa negara begitu lama membiarkan kebudayaan berjalan sendiri tanpa arah yang jelas?

Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan warga pendatang, melainkan untuk mengingatkan kehadiran yang seharusnya datang dari kebijakan. Kepada pemerintah daerah, kepada politisi lokal dan nasional, patut ditanya: strategi kebudayaan seperti apa yang sedang dan telah dijalankan? Apakah integrasi hanya dimaknai sebagai hidup berdampingan, tanpa perjumpaan yang setara?

Lampung sesungguhnya memiliki bekal nilai yang lembut namun kokoh. Piil Pesenggiri mengajarkan martabat tanpa keangkuhan. Nemui Nyimah membuka pintu bagi siapa pun yang datang. Nengah Nyappur merawat pergaulan, Bejuluk Buadok menjaga identitas, dan Sakai Sambayan menegakkan kebersamaan. Nilai-nilai ini tidak menolak perbedaan, tetapi menata perjumpaan.

Langkah-langkah simbolik mulai tampak, seperti Instruksi Gubernur Lampung Nomor 4 Tahun 2025 tentang Hari Kamis Beradat. Namun, kebudayaan tidak cukup dirawat lewat seremonial. Ia membutuhkan keberlanjutan:  ruang ekspresi, dan keberpihakan yang tenang namun tegas.

Di sisi lain, masyarakat Lampung pun perlu merawat kebesaran hati. Ketika saudara kita dari etnis lain mencoba berbahasa Lampung dengan logat yang terdengar aneh, barangkali itu bukan penghinaan, melainkan usaha mendekat. Lidah memang tak selalu patuh pada niat. Dalam perjumpaan, kekeliruan sering menjadi bagian dari belajar.

Maka, polemik ini sebaiknya tidak berhenti pada benar atau salah. Lampung bukan apa yang sekadar terdengar, melainkan apa yang terus diperjuangkan agar tetap hidup. Jika hari ini bahasa Lampung terasa jarang, itu bukan karena ia kalah, melainkan karena ia terlalu lama menunggu untuk dipanggil kembali.

Lampung bukan Jawa Cabang Sumatra. Lampung adalah Lampung—yang sedang belajar mengingat dirinya sendiri, di tengah sejarah panjang yang membuatnya sering terdengar sebagai yang lain. []

__________
Oleh: Ali Rukman, praktisi pemberdayaan masyarakat, tinggal di Bandar Lampung. Penulis buku Saya Belajar dari Sini: Pengalaman Mendampingi Masyarakat Lampung Barat (2015).

Tags: DidengarDilupakanLampungOpiniPraktisi
Previous Post

Bupati-Wakil Bupati Pesibar Hadiri Rakornas 2026, Kawal Program MBG

Next Post

Capping Day Jadi Tonggak Komitmen Mahasiswa STIKes Baitul Hikmah

Related Posts

Lingkar Gotong Royong: Support System Hidup Manusia di Tengah Zaman yang Terfragmentasi

Lingkar Gotong Royong: Support System Hidup Manusia di Tengah Zaman yang Terfragmentasi

02/02/2026
Pencabutan HGU SGC, Antara Penegakan Hukum dan Stabilitas Pasar Gula

Pencabutan HGU SGC, Antara Penegakan Hukum dan Stabilitas Pasar Gula

26/01/2026
Balai TN Way Kambas Dorong Solusi Menyeluruh Tangani Konflik Manusia dan Gajah

Balai TN Way Kambas Dorong Solusi Menyeluruh Tangani Konflik Manusia dan Gajah

19/01/2026
Indonesia Surga Karbon yang Tak Tergarap

Indonesia Surga Karbon yang Tak Tergarap

17/01/2026
Karbon Melimpah, Indonesia Masih Jadi Penonton

Karbon Melimpah, Indonesia Masih Jadi Penonton

16/01/2026
Lampung Maju Bikin Indonesia Makin Terang!

Lampung Maju Bikin Indonesia Makin Terang!

12/01/2026
Next Post
Capping Day Jadi Tonggak Komitmen Mahasiswa STIKes Baitul Hikmah

Capping Day Jadi Tonggak Komitmen Mahasiswa STIKes Baitul Hikmah

Pemkab Pesisir Barat Razia Kendaraan Dinas, Nunggak Pajak Langsung Ditahan Sementara

Pemkab Pesisir Barat Razia Kendaraan Dinas, Nunggak Pajak Langsung Ditahan Sementara

Ansor Tanggamus Nilai Polri di Bawah Presiden Jamin Independensi Institusi

Ansor Tanggamus Nilai Polri di Bawah Presiden Jamin Independensi Institusi

Slamet Riadi dan Ketua LVRI Lampung Berkomitmen Sukseskan MUSDA PPM Bersatu

Slamet Riadi dan Ketua LVRI Lampung Berkomitmen Sukseskan MUSDA PPM Bersatu

PMII Lampung Utara Dorong Guru Jadi Sumber Inspirasi Lewat Seminar Nasional

PMII Lampung Utara Dorong Guru Jadi Sumber Inspirasi Lewat Seminar Nasional

Sinergi Pusat dan Daerah, Aprozi Alam Serahkan Bantuan Banjir di Lampung Utara
Berita

Sinergi Pusat dan Daerah, Aprozi Alam Serahkan Bantuan Banjir di Lampung Utara

Editor Aidil
03/02/2026

Clickinfo.co.id — Anggota DPR RI Komisi VIII, H. Aprozi Alam, turun langsung ke daerah pemilihan (dapil) di Kabupaten Lampung Utara...

Read more
Pendaftaran SPMB SMA YP Unila 2026/2027 Dimulai, Ini Jadwal dan Syaratnya

Pendaftaran SPMB SMA YP Unila 2026/2027 Dimulai, Ini Jadwal dan Syaratnya

03/02/2026
Yoniki Cake Palembang Resmi Dibuka, Kue Rumahan Sehat Tanpa Pengawet 

Yoniki Cake Palembang Resmi Dibuka, Kue Rumahan Sehat Tanpa Pengawet 

03/02/2026
Wujudkan Palembang Inovatif, Asisten II Dorong Pembentukan UPTD di Kecamatan Sukarami

Wujudkan Palembang Inovatif, Asisten II Dorong Pembentukan UPTD di Kecamatan Sukarami

03/02/2026
Data Buktikan Pasokan Aman, Pemprov Lampung Luruskan Isu Daging Sapi

Data Buktikan Pasokan Aman, Pemprov Lampung Luruskan Isu Daging Sapi

03/02/2026
clickinfo.co.id

Lampung, Indonesia
Telepon : 081225227939
E-mail : admin@clickinfo.co.id

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Unila
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Lampung
    • DPRD Kota

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.