Clickinfo.co.id – Harapan untuk menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif bagi penyandang disabilitas Tuli di Sumatera Selatan mulai terwujud. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an Roudhotul Ashom Nusantara di Kompleks Perumahan Privilege Palembang, Jalan Masjid Az-Zikra, Kecamatan Gandus, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, hadir langsung untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah tahfiz yang diperuntukkan khusus bagi sahabat Tuli tersebut. Fasilitas ini tercatat sebagai rumah tahfiz khusus Tuli pertama di Pulau Sumatera dan yang kedua di Indonesia.
Dalam sambutannya, Herman Deru memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif pembangunan fasilitas keagamaan inklusif ini. Menurutnya, program ini sangat istimewa karena menggunakan bahasa isyarat sebagai metode utama pembelajaran Al-Qur’an bagi sahabat Tuli.
“Program kami ini spesial, karena khusus sahabat Tuli. Kalau tunanetra menggunakan huruf Braille, kalau ini menggunakan bahasa isyarat. Kita bisa bayangkan bagaimana para ustaz dan ustazahnya mengajar, tentu membutuhkan kesabaran yang luar biasa,” ujar Herman Deru.
Ia berharap keberadaan rumah tahfiz ini makin memperkuat langkah Sumatera Selatan menuju provinsi yang religius. Ia menyebut, keberhasilan Sumsel yang kembali masuk jajaran 10 besar MTQ Nasional pada 2022 tidak terlepas dari pesatnya perkembangan rumah-rumah tahfiz sejak 2019. “Ini tentu akan lebih konkret untuk langkah Sumatera Selatan. Kita bangga dan bersyukur punya sumber daya manusia muda yang hebat-hebat,” tambahnya.
Perjuangan Tanpa Pamrih Selama 4 Tahun
Sementara itu, penggagas sekaligus perwakilan Privilege Palembang, Ryoga Nugraha, mengatakan bahwa pembangunan Rumah Tahfidz Roudhotul Ashom Nusantara merupakan wujud nyata dari cita-cita bersama untuk menyediakan tempat belajar Al-Qur’an yang layak dan permanen bagi sahabat Tuli.
“Alhamdulillah, Pak Gubernur berkenan hadir dan melakukan peletakan batu pertama. Selama ini, kegiatan belajar Al-Qur’an bagi sahabat Tuli masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga proses pembelajaran belum memiliki tempat yang tetap,” ungkap Ryoga.
Di balik berdirinya fasilitas ini, terdapat kisah perjuangan panjang Ustaz Akbar, seorang pengajar yang selama empat tahun mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada sahabat Tuli tanpa menerima bayaran sepeser pun. Setiap hari Kamis, mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB, Ustaz Akbar secara rutin mendampingi para santrinya belajar, meski harus berpindah-pindah tempat.
Perjuangan tanpa pamrih tersebut akhirnya mengetuk hati sejumlah pihak. Para donatur kemudian berinisiatif menghibahkan lahan untuk pembangunan rumah tahfiz melalui Yayasan Taman Tuli Privilege Ashom. Nantinya, seluruh fasilitas ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara gratis oleh sahabat Tuli.
Metode Visual dan Sanad Keilmuan Khusus
Terkait metode pengajaran, Ustaz Akbar menjelaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an bagi sahabat Tuli memiliki tahapan khusus yang mengandalkan indera penglihatan. Prosesnya dimulai dari mengenal huruf hijaiyah, menguraikan dan merangkai huruf, membaca sekaligus menghafal, hingga tahap kitabah atau menuangkan hafalan ke dalam tulisan.
“Karena kawan-kawan Tuli menangkap ilmu secara visual, prosesnya memang membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra,” jelas Ustaz Akbar.
Sebagai langkah awal, para santri akan difokuskan pada hafalan Juz 30, mengingat surat-surat pendek di dalamnya menjadi bacaan penting dalam pelaksanaan salat.
Metode yang digunakan pun tidak sembarangan. Ustaz Akbar beserta para pengajar lainnya telah mendapatkan sanad keilmuan khusus untuk mengajarkan Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat. Pada tahun 2024 lalu, Herman Deru turut mendorong pengembangan kompetensi ini dengan memfasilitasi Ustaz Akbar bersama komunitas Tuli untuk menimba ilmu dan mengambil sanad tersebut di Yogyakarta.
Pembangunan Rumah Tahfidz Roudhotul Ashom Nusantara kini menjadi simbol kolaborasi yang indah antara komunitas sahabat Tuli, tenaga pendidik, yayasan, donatur, dan pemerintah dalam menghadirkan pendidikan agama yang inklusif. Kehadirannya diharapkan mampu mencetak generasi Qur’ani yang tangguh di Sumatera Selatan, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencintai dan menjaga Al-Qur’an.














