Clickinfo.co.id — FORTUNE Indonesia melalui edisi Juli 2026 bertajuk FORTUNE Indonesia: Best Places to Invest merilis daftar 25 daerah terbaik di Indonesia yang dinilai memiliki daya tarik investasi paling menjanjikan. Daftar tersebut terdiri atas enam provinsi, delapan kabupaten, dan sebelas kota yang diproyeksikan mampu membentuk peta ekonomi Indonesia pada masa mendatang.
Editor in Chief FORTUNE Indonesia, Hendra Soeprajitno, mengatakan bahwa penilaian tersebut tidak semata-mata melihat besarnya angka investasi, tetapi juga kualitas kepemimpinan daerah, tata kelola pemerintahan, serta kemudahan berusaha yang mampu menciptakan ekosistem investasi berkelanjutan.
“Melalui Best Places to Invest, FORTUNE Indonesia ingin melihat investasi bukan sekadar angka, melainkan cermin dari kualitas kepemimpinan, tata kelola, dan kemudahan berusaha. Bukan sekadar siapa yang berhasil menarik investasi terbesar, tetapi siapa yang mampu membangun ekosistem agar investasi terus tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Hendra Soeprajitno dalam keterangan media yang dikutip di Bandar Lampung, Rabu, 29 Juli 2026.
Adapun enam provinsi yang masuk dalam daftar tersebut secara alfabetis adalah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku Utara, dan Riau.
Sementara itu, delapan kabupaten terpilih meliputi Badung (Bali), Bekasi (Jawa Barat), Bintan (Kepulauan Riau), Kolaka (Sulawesi Tenggara), Morowali (Sulawesi Tengah), Muara Enim (Sumatra Selatan), Siak (Riau), serta Sidoarjo (Jawa Timur).
Untuk kategori kota, FORTUNE Indonesia menetapkan Balikpapan, Batam, Dumai, Makassar, Manado, Medan, Palembang, Pekanbaru, Samarinda, Semarang, dan Surabaya sebagai daerah dengan prospek investasi terbaik.
Pemeringkatan tersebut disusun melalui pengolahan dan analisis data yang bersumber dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Badan Pusat Statistik (BPS), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penilaian dilakukan berdasarkan tujuh indikator utama, yakni pertumbuhan ekonomi berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2025, PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) 2025, PDRB per kapita ADHB 2025, pengeluaran per kapita yang disesuaikan tahun 2025, skor Indeks Daya Saing Daerah (IDSD), realisasi investasi, serta pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 secara tahunan (year on year).
Dalam ulasannya, FORTUNE Indonesia juga menyoroti bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, disusul investasi dan sinergi kebijakan fiskal serta sektor keuangan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, FORTUNE Indonesia menilai kesabaran menjadi salah satu keterampilan terpenting bagi investor. Kemampuan mengendalikan emosi dinilai mampu membantu investor menghindari keputusan impulsif akibat gejolak pasar serta tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang.
Cesilia Sasanda dan Eka Putri Noveliana dari FORTUNE Indonesia merangkum lima alasan mengapa kesabaran menjadi “skill investasi paling mahal”. Pertama, mampu menghindarkan investor dari jebakan psikologis seperti panic selling maupun fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Kedua, mengurangi tekanan emosional saat pasar berfluktuasi. Ketiga, mengoptimalkan manfaat bunga majemuk (compound interest) yang membutuhkan waktu agar berkembang maksimal.
Keempat, memberikan kesempatan bagi bisnis dan aset berkualitas untuk bertumbuh hingga mencapai nilai optimal. Kelima, membantu investor tetap berorientasi pada tujuan investasi jangka panjang tanpa mudah terpengaruh fluktuasi harga sesaat.
FORTUNE Indonesia menegaskan bahwa kesabaran bukan berarti bersikap pasif. Investor tetap perlu memperdalam pengetahuan, mengevaluasi portofolio, serta terus memantau perkembangan pasar dengan tetap berpegang pada strategi yang telah disusun.
Selain itu, publikasi tersebut juga mengulas konsep circle of competence yang dipopulerkan investor legendaris Warren Buffett. Prinsip tersebut menekankan pentingnya berinvestasi hanya pada sektor yang benar-benar dipahami sehingga keputusan investasi didasarkan pada pemahaman terhadap model bisnis, prospek jangka panjang, dan risiko yang dihadapi.
Menurut Buffett, investor tidak harus menguasai seluruh industri, tetapi harus memahami batas kemampuan dan menghindari investasi pada sektor yang berada di luar kompetensinya. Dengan demikian, investor dapat mengambil keputusan secara lebih rasional dan tidak mudah terpengaruh tren pasar yang bersifat sementara.
Meski demikian, FORTUNE Indonesia mengingatkan bahwa penerapan circle of competence juga memiliki risiko apabila investor terlalu percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki, terlalu kaku sehingga terlambat menangkap peluang baru, atau terlalu bergantung pada satu sektor tertentu.
Sebagai penutup, FORTUNE Indonesia merekomendasikan sejumlah langkah untuk melatih kesabaran dalam berinvestasi, di antaranya menetapkan tujuan keuangan sejak awal, memahami karakter aset yang dipilih, mengenali profil risiko pribadi, menerapkan manajemen risiko yang disiplin, tidak terlalu sering memantau portofolio, serta tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang.
Dengan kombinasi antara kesabaran, strategi yang tepat, analisis yang matang, dan pemahaman terhadap bidang yang dikuasai, investor dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mencapai hasil investasi yang berkelanjutan.















