• Redaksi
  • Tentang Kami
Selasa, September 1, 2026
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional
No Result
View All Result
clickinfo.co.id
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

RUU Perampasan Aset dan Perlindungan Hak Konstitusional

IrzonEditorIrzon
17/07/2026
in Opini
A A
RUU Perampasan Aset dan Perlindungan Hak Konstitusional

RUU Perampasan Aset dan Perlindungan Hak Konstitusional

Clickinfo.co.id – Jika pada tulisan sebelumnya saya mengulas mengapa RUU Perampasan Aset menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem hukum Indonesia, maka pada bagian kedua ini saya mencoba melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih mendalam. Sebab, regulasi yang baik bukan hanya diukur dari ketegasannya menghukum pelaku kejahatan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga hak-hak konstitusional setiap warga negara.

Di sinilah letak tantangan terbesar RUU Perampasan Aset. Regulasi ini berada di persimpangan antara kepentingan negara untuk menyelamatkan kekayaan hasil tindak pidana dan kewajiban negara untuk tetap menjunjung tinggi prinsip negara hukum (rule of law).

Dalam negara demokrasi yang berlandaskan konstitusi, setiap kebijakan yang menyangkut hak kepemilikan warga negara harus dibangun di atas asas keadilan, proporsionalitas, transparansi, dan akuntabilitas. Karena itu, pembahasan RUU Perampasan Aset tidak boleh hanya berorientasi pada efektivitas pemberantasan korupsi, tetapi juga harus memastikan bahwa setiap mekanisme yang diatur tidak membuka ruang terjadinya penyalahgunaan kewenangan.

ArtikelTerkait

NU Bukan Hanya Besar, Tapi Harus Dipercaya

NU Pascamuktamar: Kembali ke Akar, Melangkah ke Masa Depan

Salah satu substansi yang paling banyak diperdebatkan adalah mekanisme pembalikan beban pembuktian (shifting the burden of proof).

Selama ini, hukum pidana Indonesia berpegang pada prinsip bahwa aparat penegak hukumlah yang wajib membuktikan kesalahan seseorang. Dalam RUU Perampasan Aset, ketika terdapat dugaan kuat bahwa suatu harta berasal dari tindak pidana dan terdapat ketidakwajaran antara nilai kekayaan dengan sumber penghasilan yang sah, pemilik aset diminta menjelaskan asal-usul hartanya.

Bagi sebagian kalangan, mekanisme tersebut dipandang sebagai instrumen penting untuk menghadapi kejahatan ekonomi modern yang semakin sulit dibuktikan melalui cara-cara konvensional.

Namun bagi sebagian ahli hukum lainnya, konsep ini harus dirumuskan secara sangat hati-hati agar tidak bergeser menjadi bentuk pembatasan hak warga negara secara berlebihan.

Karena itu, pembalikan beban pembuktian tidak boleh dipahami sebagai penghapusan asas praduga tak bersalah. Mekanisme tersebut harus tetap berada dalam koridor hukum acara yang menjamin kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk membela haknya di hadapan pengadilan.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah perlindungan terhadap pihak ketiga yang beritikad baik.

Bayangkan seseorang membeli rumah melalui prosedur yang sah, membayar sesuai harga pasar, dan tidak mengetahui bahwa penjual memperoleh uang dari hasil korupsi. Apabila negara kemudian merampas rumah tersebut tanpa memberikan perlindungan hukum kepada pembeli yang beritikad baik, maka rasa keadilan justru akan tercederai.

Oleh sebab itu, RUU Perampasan Aset perlu memberikan batasan yang tegas mengenai siapa yang dapat dikategorikan sebagai pihak ketiga beritikad baik. Mekanisme pembuktiannya juga harus jelas agar masyarakat tidak hidup dalam ketidakpastian hukum ketika melakukan transaksi yang sah.

Perampasan aset bukanlah akhir dari proses hukum. Justru tantangan berikutnya adalah bagaimana negara mengelola aset tersebut secara profesional.

Tanah, gedung, kendaraan, kapal, perusahaan, saham, hingga aset digital memerlukan sistem pengelolaan yang modern. Tanpa tata kelola yang baik, nilai aset dapat menyusut sebelum memiliki kekuatan hukum tetap. Bahkan negara berpotensi menanggung biaya pemeliharaan yang jauh lebih besar dibanding nilai ekonominya.

Karena itu, muncul berbagai usulan mengenai siapa yang paling tepat mengelola aset hasil perampasan. Ada yang berpandangan fungsi tersebut cukup dijalankan oleh Badan Pemulihan Aset Kejaksaan Agung. Sebagian lainnya mengusulkan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan karena dinilai memiliki pengalaman dalam pengelolaan aset negara. Tidak sedikit pula yang mengusulkan pembentukan lembaga independen agar terdapat pemisahan yang tegas antara fungsi penyidikan, penuntutan, dan pengelolaan aset.

Pilihan apa pun yang diambil, prinsip utamanya tetap sama, yakni transparansi, profesionalisme, efisiensi, dan pengawasan yang kuat.

Banyak negara telah lebih dahulu menerapkan mekanisme perampasan aset tanpa menunggu putusan pidana berkekuatan hukum tetap.

Australia dikenal dengan konsep “Unexplained Wealth Orders”, yang memungkinkan negara meminta seseorang menjelaskan asal-usul kekayaan yang tidak sebanding dengan penghasilannya.

Inggris melalui “Criminal Finances Act” memperkuat kemampuan negara melacak aset yang disembunyikan melalui perusahaan cangkang maupun transaksi lintas negara.

Sementara Amerika Serikat telah lama mengenal mekanisme “Civil Asset Forfeiture” untuk mengejar aset yang diduga berkaitan dengan tindak pidana tertentu.

Namun pengalaman internasional juga memberikan pelajaran penting. Beberapa negara menghadapi kritik karena mekanisme tersebut dinilai berpotensi menimbulkan penyalahgunaan apabila pengawasan terhadap aparat penegak hukum tidak berjalan efektif. Indonesia perlu mengambil sisi positif dari praktik tersebut sekaligus menghindari kelemahan yang pernah muncul.

Jangan Sampai Menjadi Alat Kekuasaan

Kekhawatiran terbesar masyarakat bukanlah terhadap tujuan RUU ini, melainkan terhadap kemungkinan penyalahgunaan dalam praktiknya.

Instrumen hukum yang memberikan kewenangan besar kepada negara harus selalu diimbangi dengan sistem kontrol yang sama kuatnya. Setiap tindakan penyitaan maupun perampasan aset harus dapat diuji melalui mekanisme peradilan yang independen, terbuka, dan akuntabel.

Tidak boleh ada ruang bagi penggunaan hukum sebagai alat tekanan politik, alat balas dendam, ataupun instrumen kriminalisasi terhadap pihak-pihak tertentu. Kepastian hukum merupakan fondasi utama negara demokrasi.

Masyarakat Indonesia pada dasarnya tidak sedang menunggu lahirnya undang-undang yang represif. Yang diharapkan adalah hadirnya regulasi yang mampu memastikan bahwa hasil kejahatan benar-benar kembali kepada negara tanpa mengorbankan prinsip keadilan.

RUU Perampasan Aset merupakan kesempatan besar untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem hukum nasional. Regulasi ini harus mampu membuktikan bahwa negara tidak hanya tegas terhadap pelaku kejahatan, tetapi juga adil terhadap setiap warga negara yang taat hukum.

Perjalanan pembahasan RUU Perampasan Aset menunjukkan bahwa membangun regulasi yang berkualitas memang memerlukan kecermatan. Kecepatan memang penting, tetapi kualitas jauh lebih menentukan keberhasilan sebuah undang-undang.

Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan diantaranya Pemerintah, DPR RI, aparat penegak hukum, akademisi, organisasi profesi, dan masyarakat sipil mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun institusi.

Indonesia membutuhkan undang-undang yang tidak hanya mampu memiskinkan pelaku korupsi dan kejahatan ekonomi, tetapi juga memperkuat kepastian hukum, menjaga hak konstitusional warga negara, serta memperkokoh prinsip negara hukum yang demokratis.

Apabila keseimbangan tersebut dapat diwujudkan, maka RUU Perampasan Aset bukan sekadar menjadi instrumen hukum baru, melainkan akan tercatat sebagai salah satu tonggak penting reformasi hukum nasional. Keberhasilan regulasi ini tidak hanya diukur dari banyaknya aset yang berhasil dirampas, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap tegaknya keadilan di Negeri ini. (Tamat)

 

Bandar Lampung, 17 Juli 2026

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Ketum Poros Wartawan Lampung

Tags: Junaidi IsmailPoros Wartawan LampungRUU Perampasan Aset
Previous Post

Bupati Egi dan Kajati Lampung Sidak Program MBG di Natar, Pastikan Tepat Sasaran

Next Post

Jadi Narasumber MPLS, Jaksa Fungsional Kejari Banyuasin Bedah Modus Kejahatan Siber Depan Siswa

Related Posts

NU Bukan Hanya Besar, Tapi Harus Dipercaya

NU Bukan Hanya Besar, Tapi Harus Dipercaya

01/09/2026
NU Pascamuktamar: Kembali ke Akar, Melangkah ke Masa Depan

NU Pascamuktamar: Kembali ke Akar, Melangkah ke Masa Depan

31/08/2026
Tunggu Kalah di MK, Baru Lindungi Rakyat

Tunggu Kalah di MK, Baru Lindungi Rakyat

31/08/2026
MK Bebaskan Kritik, Rakyat Diuji Jaga Adab

MK Bebaskan Kritik, Rakyat Diuji Jaga Adab

30/08/2026
Prof Rudy dan Harapan Baru bagi Unila

Prof Rudy dan Harapan Baru bagi Unila

29/08/2026
Menuju Pengesahan RUU Perampasan Aset 

Menuju Pengesahan RUU Perampasan Aset 

28/08/2026
Next Post
Jadi Narasumber MPLS, Jaksa Fungsional Kejari Banyuasin Bedah Modus Kejahatan Siber Depan Siswa

Jadi Narasumber MPLS, Jaksa Fungsional Kejari Banyuasin Bedah Modus Kejahatan Siber Depan Siswa

Catat Rekor Membanggakan, Ratusan Lulusan SMA YP Unila Borong Kursi PTN Favorit

Catat Rekor Membanggakan, Ratusan Lulusan SMA YP Unila Borong Kursi PTN Favorit

Kenalkan Karakter dan Budaya Sekolah, Kepala SMAN 6 Palembang Resmi Tutup Kegiatan MPLS

Kenalkan Karakter dan Budaya Sekolah, Kepala SMAN 6 Palembang Resmi Tutup Kegiatan MPLS

Terima SK Pusat, Ahmad Farid Kembali Pimpin DPC PPP Tanggamus Periode 2026–2031

Terima SK Pusat, Ahmad Farid Kembali Pimpin DPC PPP Tanggamus Periode 2026–2031

Usung Tema Bandarlampung Bersinar, Bandarlampung Expo 2026 Siap Digelar

Usung Tema Bandarlampung Bersinar, Bandarlampung Expo 2026 Siap Digelar

Seruan Fastabiqul Khairat, H. Liswardy Ajak Jemaah Rampungkan Pondok Tahfizh Al Iman
Berita

Seruan Fastabiqul Khairat, H. Liswardy Ajak Jemaah Rampungkan Pondok Tahfizh Al Iman

EditorIrzon
01/09/2026

Clickinfo.co.id - Penasehat Pembangunan Pondok Tahfizh Al Iman Gedong Meneng, H. Liswardy, RL., mengajak jemaah Masjid Al Iman dan masyarakat...

Read more
Di Final PPD 2026, Bupati Egi Usung Gagasan Lampung Selatan Beranda Sumatra

Di Final PPD 2026, Bupati Egi Usung Gagasan Lampung Selatan Beranda Sumatra

01/09/2026
NU Bukan Hanya Besar, Tapi Harus Dipercaya

NU Bukan Hanya Besar, Tapi Harus Dipercaya

01/09/2026
Reses Dapil IV Palembang, Dewan Dorong Sekolah Lebih Layak dan Layanan Kesehatan Maksimal

Reses Dapil IV Palembang, Dewan Dorong Sekolah Lebih Layak dan Layanan Kesehatan Maksimal

31/08/2026
Semester II 2026, Kejari Banyuasin Musnahkan Barang Bukti 124 Perkara

Semester II 2026, Kejari Banyuasin Musnahkan Barang Bukti 124 Perkara

31/08/2026
clickinfo.co.id

Lampung, Indonesia
Telepon : 081225227939
E-mail : admin@clickinfo.co.id

  • Beranda
  • Redaksi
  • Tentang Kami

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Provinsi
    • Lampung
    • Aceh
    • Bali
    • DKI Jakarta
    • NTB
    • NTT
    • Daerah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Sumatera
    • Papua
  • Daerah
    • Bandar Lampung
    • Lampung Barat
    • Lampung Selatan
    • Lampung Tengah
    • Lampung Timur
    • Lampung Utara
    • Mesuji
    • Metro
    • Pesawaran
    • Pesisir Barat
    • Pringsewu
    • Tanggamus
    • Tulang Bawang
    • Tulang Bawang Barat
    • Waykanan
  • Pendidikan
    • Unila
    • UIN RIL
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Puisi
    • Tajuk
  • Life Style
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Travel
  • Politik
    • DPRD Provinsi Lampung
    • DPRD Kota Bandar Lampung
  • Organisasi
    • JMSI
    • HIPMI
    • APINDO
    • IKADI
    • Komite OSIS Nasional

© 2025 - Clickinfo.co.id - All Rights Reserved.