Clickinfo.co.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila) menggelar diskusi terbuka bertajuk “Refleksi Generasi Muda: Membaca Arah Strategis Pemerintah dalam Menata Indonesia Emas 2045 di Tengah Tantangan Geopolitik Dunia” di Tavern House, Bandar Lampung, Jumat, 19 Juni 2026.
Di tengah gelombang aksi penolakan terhadap sejumlah program pemerintah yang terjadi di berbagai daerah, mahasiswa FEB Unila justru memilih pendekatan berbeda. Melalui forum diskusi tersebut, mereka hadir untuk membahas, mengkaji, sekaligus memberikan dukungan terhadap berbagai program strategis pemerintah.
Kegiatan yang diselenggarakan Kabinet Vistara BEM FEB Unila itu menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung Muslimin, S.E., M.Sc., praktisi sekaligus pengurus Keluarga Besar Alumni FEB Unila Ganjar Jationo, serta Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI yang juga Ketua Harian KNPI Kota Bandar Lampung periode 2025-2028, Mauldan Agusta Rifanda.
Dalam sambutannya, Mauldan Agusta Rifanda menekankan pentingnya budaya dialog sebagai sarana menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, ruang demokrasi yang sehat harus memberikan kesempatan yang sama bagi semua pihak untuk menyampaikan kritik maupun dukungan secara terbuka.
“Diskusi ini menandakan bahwa persoalan-persoalan ke depan harus diselesaikan dengan dialog dan pertukaran gagasan. Yang mengkritik pemerintah silakan menyampaikan kritiknya, yang mendukung pemerintah juga silakan menyampaikan pandangannya. Yang penting jangan sampai kita menggunakan standar ganda dalam melihat suatu persoalan,” ujar Mauldan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan dihadiri mahasiswa dari berbagai fakultas serta organisasi kepemudaan. Berbagai isu strategis nasional dibahas secara mendalam, mulai dari transisi energi, hilirisasi industri, pembangunan sumber daya manusia, hingga implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta muncul saat seorang mahasiswa bernama Sandi mengangkat dilema antara pengembangan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi karbon dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan nikel.
Menanggapi hal tersebut, Muslimin mengajak peserta melihat persoalan energi secara menyeluruh.
“Kita harus melihat persoalan energi secara utuh. Perubahan harga energi sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat karena berdampak langsung terhadap inflasi dan biaya hidup. Karena itu tata kelola sektor energi menjadi faktor yang sangat penting,” jelasnya.
Forum tersebut menjadi gambaran bahwa tidak semua mahasiswa menolak program-program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis. Berbeda dengan sejumlah aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah, mahasiswa di Lampung memilih jalur dialog dan kajian akademis untuk memahami berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah.
Dalam diskusi itu juga disampaikan bahwa pemerintah terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045 yang bertujuan menciptakan generasi unggul, sehat, dan berkualitas. Karena itu, mahasiswa menilai program tersebut membutuhkan dukungan sekaligus pengawasan dari seluruh elemen masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Peserta yang hadir menegaskan bahwa peran mahasiswa bukan hanya mengkritisi kebijakan, tetapi juga memberikan masukan konstruktif serta mengawal implementasi program agar berjalan sesuai tujuan yang diharapkan.
Diskusi terbuka yang digagas BEM FEB Unila ini menjadi contoh bagaimana mahasiswa dapat berperan sebagai agen perubahan yang konstruktif. Alih-alih sekadar melakukan penolakan, mereka memilih memperdalam pemahaman dan menyampaikan gagasan untuk perbaikan kebijakan publik.
Menutup kegiatan tersebut, Mauldan Agusta Rifanda kembali mengingatkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan bangsa.
“Persoalan-persoalan ke depan harus diselesaikan dengan dialog dan pertukaran gagasan. Generasi muda harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar menjadi penonton atau bahkan penghambat pembangunan,” pungkasnya.
Melalui forum diskusi seperti ini, diharapkan ruang partisipasi mahasiswa dalam mengawal sekaligus memberikan masukan terhadap program-program pemerintah semakin terbuka demi mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.















