Clickinfo.co.id – Sebanyak 219 tenaga kerja lokal di lingkungan PT Ciomas Japfa Food Sidomulyo, Lampung Selatan, kini menghadapi ketidakpastian kerja.
Kondisi ini terjadi pasca berakhirnya perjanjian kerja sama antara pihak manajemen pabrik dengan perusahaan vendor penyalur tenaga kerja tempat mereka bernaung.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan dari perusahaan induk terkait status kemitraan para pekerja lama tersebut. Situasi kian memanas setelah muncul informasi bahwa pabrik pengolahan perunggasan itu tetap beroperasi normal dengan mempekerjakan tenaga kerja baru yang diduga berasal dari luar daerah.
“Aktivitas produksi di dalam pabrik jalan terus seperti biasa. Namun yang bekerja sekarang justru orang-orang baru dari luar daerah, bukan warga sekitar. Kenapa kami yang sudah lama mengabdi tidak dilibatkan lagi? Alasannya apa, kami tidak diberi tahu,” ujar salah seorang mantan pekerja yang meminta identitasnya dirahasiakan, Minggu, 21 Juni 2026.
Pekerja tersebut menambahkan, beredar kabar bahwa PT Ciomas Japfa Food kini membuka rekrutmen mandiri tanpa vendor dengan sistem harian lepas. Sayangnya, informasi lowongan kerja baru tersebut tidak disosialisasikan terlebih dahulu kepada warga lokal yang selama ini menggantungkan hidup di perusahaan tersebut.
Merespons ketidakpastian tersebut, koordinator lapangan mantan pekerja, Amirudin, menegaskan bahwa pihaknya bersama ratusan rekan kerja akan mendatangi kantor manajemen PT Ciomas Japfa Food pada Senin, 22 Juni 2026 besok.
Ada dua poin utama yang akan dituntut oleh perwakilan pekerja dalam pertemuan besok, yaitu:
* Menuntut transparansi dan penjelasan resmi mengenai alasan tidak dilibatkannya kembali 219 pekerja lama.
* Meminta manajemen perusahaan untuk memprioritaskan sisa kuota 219 pekerja lokal tersebut dalam sistem perekrutan harian lepas yang baru secara mandiri.
“Kami tidak keberatan dengan adanya peralihan sistem kerja baru, baik menggunakan vendor maupun harian lepas langsung tanpa vendor. Sederhana saja, kami hanya meminta agar 219 orang pekerja lokal ini diprioritaskan dan diterima kembali bekerja,” tegas Amirudin.
Amirudin mengingatkan, keberadaan industri berskala nasional di Sidomulyo ini seharusnya memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat penyangga di sekitar area operasional pabrik.
“Jangan sampai masyarakat sekitar hanya merasakan dampak lingkungan atau aroma bau limbahnya saja, tetapi tidak mendapatkan manfaat ekonomi. Jika alasannya efisiensi, itu bertolak belakang dengan fakta di lapangan karena operasional tetap berjalan dan mereka justru memasukkan tenaga kerja baru,” pungkasnya.














