Clickinfo.co.id – Ada kegelisahan yang hari ini dirasakan oleh sebagian masyarakat, tetapi tidak semuanya mampu diungkapkan secara terbuka. Tentang bagaimana sulitnya mencari nafkah, beratnya memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan semakin besarnya tanggung jawab yang harus dipikul demi menjaga keluarga tetap bertahan. Bagi sebagian orang, dua tahun terakhir bukanlah perjalanan yang mudah. Hari demi hari dijalani dengan perjuangan, sementara kepastian mengenai penghasilan dan masa depan belum tentu dapat digenggam.
Bagi mereka yang bekerja dengan penghasilan tetap maupun tidak tetap, persoalan ekonomi tidak berhenti ketika pekerjaan selesai. Justru setelah pulang ke rumah, ada tanggung jawab lain yang telah menunggu. Kebutuhan makan, biaya pendidikan anak, tagihan listrik dan air, transportasi, cicilan, hingga berbagai keperluan keluarga harus tetap dipenuhi. Semua memiliki tenggat waktu, sementara sumber penghasilan tidak selalu bertambah mengikuti kebutuhan.
Di tengah situasi seperti ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa sebagian masyarakat merasa harus bekerja semakin keras hanya untuk mempertahankan kehidupan yang sama?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar keluhan. Ini adalah gambaran kegelisahan yang perlu didengar, dipahami, dan dijadikan bahan evaluasi bersama. Sebab, ketika perjuangan mencari nafkah semakin berat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh keluarga, lingkungan sosial, dunia usaha, dan masa depan generasi muda.
Ketika kerja keras belum tentu berbanding lurus dengan kesejahteraan
Sebagai Pengurus KNPI Provinsi Lampung, saya memandang persoalan sulitnya mencari nafkah sebagai isu sosial dan ekonomi yang perlu dibicarakan secara terbuka, jujur, dan bertanggung jawab.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa setiap orang memiliki kondisi ekonomi yang berbeda. Ada yang bekerja sebagai karyawan swasta, pedagang, pekerja harian, pengusaha kecil, maupun mereka yang mengandalkan pendapatan dari pekerjaan tidak tetap. Namun, ada satu kesamaan yang mempertemukan banyak dari mereka: kebutuhan hidup harus terus berjalan, apa pun kondisi yang sedang dihadapi.
Bagi sebagian pekerja, penghasilan yang diterima setiap bulan harus segera dibagi untuk berbagai kebutuhan. Belum sempat menikmati hasil kerja, uang tersebut sudah memiliki banyak tujuan. Untuk kebutuhan pokok, pendidikan anak, kewajiban rumah tangga, dan biaya tak terduga yang terkadang datang tanpa pemberitahuan.
Sementara itu, bagi pelaku usaha kecil, tantangannya bisa berbeda. Mereka harus memikirkan modal, biaya operasional, pelanggan, daya beli masyarakat, dan keberlangsungan usaha. Ketika penjualan tidak sesuai harapan, keuntungan menipis, atau biaya usaha meningkat, mereka tetap harus bertahan agar usaha yang dibangun dengan susah payah tidak berhenti di tengah jalan.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari angka pendapatan semata. Kita juga perlu melihat berapa besar kebutuhan yang harus ditanggung, seberapa stabil pekerjaan yang tersedia, dan apakah seseorang memiliki kesempatan nyata untuk meningkatkan taraf hidupnya.
Kerja keras memang penting. Disiplin, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi juga sangat dibutuhkan. Namun, masyarakat tidak bisa selamanya dibebani tuntutan untuk berjuang sendiri tanpa dukungan berupa kesempatan kerja, akses usaha, dan lingkungan ekonomi yang memungkinkan mereka berkembang.
Dua tahun yang mengajarkan arti bertahan
Dalam dua tahun terakhir, pengalaman masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi tentu tidak sama. Ada yang mampu bertahan, ada yang harus menyesuaikan gaya hidup, ada yang mencari pekerjaan tambahan, dan ada pula yang berusaha membuka usaha baru untuk menambah penghasilan keluarga.
Di balik upaya tersebut, terdapat pengorbanan yang tidak selalu terlihat.
Ada orang tua yang menunda membeli kebutuhan pribadi demi membayar keperluan sekolah anak. Ada kepala keluarga yang tetap berangkat bekerja meskipun pikirannya dipenuhi perhitungan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan bulan berikutnya. Ada pula pelaku usaha yang terus membuka tempat usahanya setiap hari, berharap pelanggan datang dan pendapatan cukup untuk menutup biaya operasional.
Mereka tidak selalu meminta bantuan. Sebagian hanya ingin mendapatkan kesempatan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih layak, pelanggan yang cukup, atau penghasilan yang mampu memberikan sedikit ruang untuk bernapas.
Bagi saya, inilah sisi kehidupan yang perlu menjadi perhatian bersama. Kita sering melihat seseorang dari apa yang tampak di luar, tetapi tidak selalu mengetahui beban yang sedang dipikulnya. Orang yang terlihat tenang belum tentu tidak memiliki persoalan. Mereka yang tetap tersenyum belum tentu sedang berada dalam keadaan ekonomi yang baik.
Karena itu, kita perlu membangun kepekaan sosial. Jangan mudah menghakimi orang yang sedang mengalami kesulitan, seolah-olah persoalan ekonomi selalu muncul karena kurangnya usaha atau kemampuan mengelola keuangan. Setiap orang memiliki latar belakang, tanggung jawab, dan tantangan yang berbeda.
Pada saat yang sama, semangat untuk terus berusaha harus tetap dijaga. Kesulitan bukan alasan untuk menyerah, tetapi juga bukan sesuatu yang patut diremehkan. Masyarakat membutuhkan semangat untuk bangkit sekaligus kondisi yang memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.
Penghasilan bukan sekadar angka, melainkan harapan sebuah keluarga
Bagi seorang kepala keluarga, mencari nafkah bukan semata-mata urusan mendapatkan uang. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, kasih sayang, dan keinginan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang dicintai.
Seorang ayah ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Seorang ibu ingin kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Setiap keluarga tentu berharap dapat menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dihantui kekhawatiran mengenai kebutuhan esok hari.
Namun, ketika penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan dasar, ruang untuk menabung, mengembangkan usaha, mempersiapkan pendidikan anak, atau menghadapi keadaan darurat menjadi semakin terbatas.
Kondisi tersebut dapat membuat keluarga rentan ketika terjadi persoalan yang tidak direncanakan. Sakit, kehilangan pekerjaan, kerusakan kendaraan, atau kebutuhan sekolah tambahan bisa menjadi beban yang berat apabila tidak tersedia cadangan keuangan.
Karena itu, kesejahteraan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kemampuan seseorang memperoleh pekerjaan. Kesejahteraan juga menyangkut apakah pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang layak, perlindungan yang memadai, dan peluang untuk membangun masa depan.
Kita perlu mendorong terciptanya kondisi ketika masyarakat tidak hanya sibuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempersiapkan hari esok.
Sebab, tujuan bekerja bukan sekadar agar seseorang mampu bertahan hidup. Lebih dari itu, bekerja seharusnya membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Pemerintah perlu mendengar apa yang dirasakan masyarakat
Kesulitan mencari nafkah tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, mulai dari ketersediaan lapangan kerja, perkembangan harga kebutuhan, kondisi dunia usaha, tingkat pendapatan, hingga kemampuan masyarakat mengakses peluang ekonomi.
Karena penyebabnya beragam, penyelesaiannya pun tidak bisa dilakukan melalui satu pendekatan saja.
Pemerintah perlu terus mengevaluasi apakah kebijakan ekonomi dan program pemberdayaan yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana atau besarnya anggaran yang terserap. Perlu dilihat pula manfaat nyata yang dirasakan oleh orang-orang yang menjadi sasaran program tersebut.
Apakah pencari kerja mendapatkan akses terhadap pekerjaan yang sesuai dengan keterampilannya? Apakah pelaku usaha mikro memiliki kemudahan untuk mengembangkan usahanya? Apakah masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh akses terhadap program perlindungan sosial yang tepat? Apakah anak muda memiliki kesempatan untuk membangun kemandirian ekonomi?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting dijawab melalui data, dialog, dan evaluasi yang terbuka.
Pemerintah pusat maupun daerah perlu memperkuat program penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, pendampingan usaha mikro, serta perluasan akses pasar. Program yang dirancang juga perlu memperhatikan kebutuhan nyata di lapangan, bukan sekadar menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh kelompok masyarakat.
Di Provinsi Lampung, potensi sektor pertanian, perdagangan, jasa, pariwisata, industri pengolahan, dan ekonomi kreatif dapat menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan ekonomi. Namun, potensi tersebut harus diterjemahkan menjadi peluang yang dapat diakses masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil dan generasi muda.
Investasi dan pembangunan akan semakin bermakna ketika manfaatnya mampu menjangkau masyarakat secara luas, membuka pekerjaan, memperkuat usaha lokal, dan menciptakan peluang bagi warga untuk meningkatkan pendapatan.
Kritik terhadap kebijakan juga harus ditempatkan secara proporsional. Menyampaikan kesulitan ekonomi bukan berarti menafikan seluruh upaya yang telah dilakukan pemerintah. Sebaliknya, suara masyarakat dapat menjadi masukan penting agar kebijakan yang sudah berjalan semakin tepat sasaran.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendengar, kemauan untuk mengevaluasi, dan kesungguhan untuk memperbaiki hal-hal yang memang perlu diperbaiki.
Jangan biarkan UMKM berjuang sendirian
Salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian serius adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bagi banyak keluarga, usaha kecil merupakan sumber penghasilan utama sekaligus jalan untuk membangun kemandirian ekonomi.
Warung, usaha kuliner, pedagang pasar, jasa rumahan, dan berbagai usaha lokal memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Mereka menciptakan aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar dan menyediakan barang maupun jasa yang dibutuhkan warga.
Namun, menjalankan usaha kecil bukan perkara mudah. Pelaku UMKM harus menjaga kualitas produk, mengatur modal, menghitung biaya, mempertahankan pelanggan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen.
Dukungan terhadap UMKM karena itu tidak boleh berhenti pada pelatihan atau seremoni peluncuran program. Pelaku usaha membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, akses pembiayaan yang sesuai kemampuan, peningkatan kualitas produk, pemanfaatan teknologi digital, serta peluang pemasaran yang lebih luas.
Masyarakat juga dapat mengambil bagian dengan menghidupkan ekonomi lingkungan. Membeli produk dari usaha lokal, menggunakan jasa warga sekitar ketika sesuai kebutuhan, dan membantu mempromosikan usaha tetangga merupakan langkah sederhana yang dapat memperkuat perputaran uang di lingkungan sendiri.
Tentu, gerakan membeli produk lokal bukan satu-satunya solusi atas kesulitan ekonomi. Namun, apabila dilakukan secara konsisten dan didukung peningkatan kualitas usaha, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
Kita harus membangun ekosistem yang membuat pelaku usaha kecil memiliki kesempatan untuk berkembang, bukan membiarkan mereka menghadapi seluruh tantangan sendirian.
Pemuda jangan hanya menjadi penonton pembangunan
Sebagai bagian dari organisasi kepemudaan, saya menilai bahwa persoalan lapangan kerja dan kemandirian ekonomi pemuda harus mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Generasi muda memiliki energi, kreativitas, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta keberanian untuk mencoba hal baru. Akan tetapi, potensi tersebut tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan apabila tidak didukung akses terhadap keterampilan, modal, jaringan usaha, dan kesempatan kerja.
Kita tidak bisa hanya meminta pemuda menjadi inovatif dan mandiri tanpa membuka ruang yang memungkinkan mereka berkembang.
Pelatihan keterampilan harus terhubung dengan kebutuhan dunia kerja. Program kewirausahaan perlu dilengkapi pendampingan dan akses pasar. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi kepemudaan harus diarahkan untuk menciptakan peluang yang nyata.
Pemuda yang ingin membangun usaha juga perlu memperoleh ruang untuk belajar, melakukan kesalahan, memperbaiki strategi, dan mengembangkan produknya. Tidak semua usaha langsung berhasil. Karena itu, pendampingan dan akses informasi menjadi penting agar mereka tidak menghadapi tantangan tanpa bekal yang memadai.
KNPI Provinsi Lampung dapat mengambil peran sebagai ruang kolaborasi dan penyampaian aspirasi pemuda. Organisasi kepemudaan perlu mendorong dialog yang mempertemukan kebutuhan generasi muda dengan pihak-pihak yang memiliki sumber daya dan kewenangan untuk membantu menciptakan peluang.
Bagi saya, keberhasilan gerakan kepemudaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari seberapa jauh kegiatan tersebut memberi manfaat bagi anggota dan masyarakat.
Pemuda harus menjadi bagian dari solusi, sekaligus memperoleh kesempatan yang adil untuk membangun masa depannya.
Jangan mengadu masyarakat, mari mencari jalan keluar bersama
Dalam menghadapi tekanan ekonomi, kita perlu menjaga ruang publik agar tetap sehat dan produktif. Jangan sampai kesulitan mencari nafkah justru membuat masyarakat saling menyalahkan tanpa memahami persoalan secara utuh.
Kita perlu membedakan antara kritik yang membangun, keluhan yang lahir dari pengalaman nyata, dan tuduhan yang tidak didukung bukti. Setiap persoalan harus dibicarakan dengan jernih agar energi masyarakat tidak habis dalam pertengkaran, sementara masalah yang sesungguhnya belum terselesaikan.
Masyarakat berhak menyampaikan kegelisahan dan mengevaluasi kebijakan. Pemerintah berkewajiban mendengar aspirasi serta menjelaskan langkah-langkah yang diambil. Dunia usaha perlu membuka ruang kolaborasi, sementara organisasi masyarakat dan kepemudaan dapat membantu menyampaikan persoalan di lapangan sekaligus mendorong solusi.
Kita tidak harus selalu memiliki pandangan yang sama untuk bekerja sama. Perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang untuk memperkaya pemahaman, bukan alasan untuk menutup komunikasi.
Pada akhirnya, kepentingan bersama harus menjadi perhatian utama: bagaimana menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas, membantu masyarakat menghadapi tekanan biaya hidup, dan memastikan generasi berikutnya memiliki peluang yang lebih baik.
Saatnya mengukur pembangunan dari kehidupan nyata
Kita perlu mengembalikan perhatian pada pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat: apakah seseorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh memiliki peluang untuk hidup lebih layak? Apakah usaha kecil yang dikelola dengan tekun memiliki kesempatan untuk tumbuh? Apakah anak muda yang memiliki keterampilan dan kemauan dapat menemukan pekerjaan yang sesuai? Apakah keluarga dapat memenuhi kebutuhan hariannya tanpa terus-menerus berada dalam kecemasan?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi bagian dari evaluasi pembangunan.
Angka-angka ekonomi tetap penting. Investasi, pertumbuhan, dan pembangunan infrastruktur juga memiliki peran besar. Namun, semua itu perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pekerjaan, penguatan daya beli, perluasan kesempatan usaha, dan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Kita juga harus jujur bahwa memperbaiki keadaan membutuhkan proses, kerja sama, dan kebijakan yang konsisten. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Meski demikian, masyarakat berhak melihat arah yang jelas dan merasakan adanya upaya nyata untuk memperbaiki keadaan.
Harapan tidak cukup dibangun melalui kata-kata. Harapan tumbuh ketika masyarakat melihat kesempatan terbuka, usaha kecil mendapat dukungan, pencari kerja memperoleh akses, dan kebijakan publik memberikan manfaat yang dapat dirasakan.
Penutup: Rakyat ingin hidup layak, bukan sekadar bertahan
Dua tahun terakhir menjadi pengingat bahwa mencari nafkah bagi sebagian masyarakat merupakan perjuangan yang semakin menuntut tenaga, pikiran, dan pengorbanan. Di balik aktivitas sehari-hari, ada tanggung jawab keluarga, kebutuhan yang terus berjalan, serta harapan yang harus tetap dijaga.
Saya, Jamal, Pengurus KNPI Provinsi Lampung, memandang bahwa kegelisahan masyarakat mengenai sulitnya mencari nafkah patut menjadi perhatian bersama. Persoalan ini tidak semestinya dijawab dengan saling menyalahkan, tetapi juga tidak boleh diabaikan atau dianggap sebagai keluhan biasa.
Kita perlu mendorong evaluasi kebijakan yang terbuka, penciptaan lapangan kerja yang lebih luas, penguatan UMKM, pemberdayaan pemuda, dan kolaborasi yang mampu menghadirkan peluang ekonomi nyata. Pada saat yang sama, kita perlu memperkuat semangat gotong royong, kepedulian sosial, serta kebiasaan saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.
Saya percaya, masyarakat tidak meminta kehidupan yang berlebihan. Mereka ingin hasil kerja kerasnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka ingin usaha yang dirintis memiliki kesempatan berkembang. Mereka ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Mereka ingin menjalani kehidupan dengan lebih tenang, tanpa harus terus-menerus dihantui pertanyaan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan esok hari.
Rakyat tidak hanya membutuhkan imbauan untuk bekerja lebih keras. Rakyat juga membutuhkan kesempatan yang lebih adil, kebijakan yang berpihak pada kebutuhan nyata, dan lingkungan ekonomi yang memungkinkan kerja keras menghasilkan kehidupan yang lebih layak.
Sebab, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang seberapa tinggi angka pertumbuhan yang dicapai, tetapi juga tentang seberapa besar kesempatan yang terbuka bagi masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan yang paling dekat dengan rakyat adalah ketika seorang ayah dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, seorang ibu dapat menjalani hari dengan lebih tenang, seorang anak dapat terus bersekolah, dan seorang anak muda dapat memandang masa depan dengan keyakinan.
Itulah harapan yang patut kita perjuangkan bersama: bukan sekadar bertahan dari hari ke hari, melainkan membangun kehidupan yang lebih layak, bermartabat, dan penuh harapan.
Jamal
Pengurus KNPI Provinsi Lampung










