Clickinfo.co.id — Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Lampung mendapat peluang lebih besar untuk mengakses rumah subsidi. BRI BO Tanjung Karang menyiapkan percepatan proses pembiayaan KPR subsidi melalui target penyelesaian hingga tiga hari kerja.
Target tersebut disampaikan dalam Podcast Talkshow REI-BRI Property Expo 2026 di Atrium Mall Boemi Kedaton, Bandar Lampung, Rabu (9/9/2026).
Consumer Business Manager BRI BO Tanjung Karang, Jurtania Lova, mengatakan percepatan proses menjadi bagian dari upaya BRI mendukung program perumahan pemerintah sekaligus memberikan kepastian kepada calon konsumen.
“Insyaallah proses tiga hari kerja. Akad massal akan kita kumpulkan di hari Jumat,” kata Jurtania.
Menurutnya, pasar KPR subsidi di Lampung masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Hal itu tercermin dari penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) BRI BO Tanjung Karang yang sepanjang 2026 telah mencapai sekitar Rp50 miliar.
Jurtania menyebut segmen MBR menjadi salah satu pasar yang terus didorong karena kebutuhan terhadap hunian masih tinggi.
Dalam pemaparannya, batas penghasilan MBR untuk wilayah Sumatera disebut mencapai maksimal Rp8 juta bagi masyarakat yang belum menikah dan Rp10 juta bagi yang telah menikah, sesuai ketentuan program yang berlaku.
Pengembang Juga Jadi Sasaran
Percepatan pembiayaan tidak hanya diarahkan kepada calon pembeli rumah. BRI juga mendorong pengembang masuk ke dalam ekosistem pembiayaan perbankan.
Small Business Manager BRI BO Tanjung Karang, Enda Saputra, mengatakan pembiayaan yang telah disalurkan melalui unitnya mencapai sekitar Rp15 miliar. Sebagian besar pembiayaan tersebut masih berkaitan dengan kebutuhan supplier.
Menurut Enda, pengembang yang ingin memperoleh dukungan pembiayaan dari BRI perlu memiliki kerja sama melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan karena konsumen dari pengembang yang telah bekerja sama dapat mengakses fasilitas KPP BRI.
“Kalau developer punya PKS terlebih dahulu dengan BRI, khususnya BRI Tanjung Karang,” ujarnya.
Untuk pembiayaan pembangunan, pengembang harus memiliki lahan terlebih dahulu. BRI tidak memberikan fasilitas kredit untuk pembelian lahan.
Sementara pembangunan rumah dapat memperoleh pembiayaan maksimal 70 persen dari Rencana Anggaran Biaya (RAB). Porsi sisanya menjadi kontribusi dana pengembang.
Enda mengatakan kisaran suku bunga KPP berada di angka 6–7 persen, dengan pelaksanaannya mengikuti ketentuan program pemerintah dan kuota yang tersedia.
Potensi Properti Lampung Masih Besar
Pimpinan BRI BO Tanjung Karang, Hidayat Akbar, menilai Lampung memiliki prospek yang kuat dalam sektor perumahan.
Potensi tersebut tidak hanya terlihat dari kebutuhan masyarakat terhadap rumah, tetapi juga dari aktivitas pengembang serta pelaku usaha yang berada dalam rantai pasok sektor properti.
“Potensi Lampung cukup besar,” kata Hidayat.
Selain penyaluran FLPP sekitar Rp50 miliar, Jurtania menyebut terdapat peningkatan sekitar Rp23 miliar pada pembiayaan yang berkaitan dengan sektor real estate di Lampung sepanjang 2026.
Menurutnya, kolaborasi antara perbankan, pengembang, dan masyarakat diperlukan agar potensi tersebut dapat dikonversi menjadi penyaluran pembiayaan yang lebih besar.
REI-BRI Property Expo 2026 pun menjadi salah satu sarana mempertemukan ketiga pihak tersebut. Masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai rumah yang tersedia sekaligus mengetahui persyaratan pembiayaan sebelum mengajukan KPR.
Dengan target proses hingga tiga hari kerja dan skema akad massal, BRI BO Tanjung Karang berupaya memangkas waktu proses pembiayaan sekaligus mempercepat realisasi kepemilikan rumah bagi masyarakat.











