Clickinfo.co.id – Sejumlah debitur fasilitas pinjaman Briguna Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Lampung mengeluhkan sistem penahanan saldo serta pemotongan otomatis yang dinilai memberatkan keuangan nasabah.
Mekanisme autodebet tersebut menyasar para debitur dari kalangan pekerja hingga pensiunan yang menggantungkan pemenuhan kebutuhan keluarga pada rekening perbankan tersebut.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari para debitur, sistem operasional bank memberlakukan penahanan (hold) dana sebesar dua kali nilai angsuran sebelum tanggal jatuh tempo. Beban nasabah bertambah lantaran setiap dana segar yang baru masuk ke rekening dilaporkan langsung terpotong kembali oleh sistem penagihan otomatis.
Kondisi tersebut dinilai mengikis kemampuan finansial para nasabah untuk mencukupi belanja kebutuhan hidup sehari-hari. Sejumlah debitur mengaku terkejut mendapati rekening simpanannya berkurang secara berulang di luar pemahaman atas akad pinjaman yang disepakati.
“Kami sudah dikenakan penahanan dana untuk dua kali angsuran, namun setiap kali ada uang masuk ke rekening justru langsung terpotong kembali tanpa sisa. Kami kesulitan membiayai keluarga jika saldo didebet sepihak seperti ini,” ungkap salah seorang nasabah terdampak di Bandar Lampung, Jumat, 16 Oktober 2026.
Maraknya keluhan penahanan saldo berlapis ini memicu desakan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera melakukan pemeriksaan mendalam terhadap sistem operasional perbankan yang bersangkutan. Langkah investigasi dinilai penting guna memastikan pemenuhan regulasi perlindungan konsumen di sektor jasa perbankan.
Para nasabah mendesak dilakukannya audit sistem penagihan digital secara menyeluruh serta pemulihan saldo debitur apabila terbukti terjadi kelebihan debet. Ketidakjelasan mekanisme autodebet dikhawatirkan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola layanan bank pelat merah tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen kantor wilayah BRI setempat belum memberikan pernyataan resmi mengenai polemik penahanan saldo ganda dan pemotongan berulang yang dikeluhkan nasabah Briguna di Lampung.















