Clickinfo.co.id – Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Lampung kembali berbagi semangat mendukung pelestarian lingkungan dengan menghelat taja tematik “Gotong Royong Hijau: Penanaman Mangrove 2026” bertajuk “Mangrove Untuk Masa Depan” di dua kawasan konservasi, Merak Belantung dan Way Lubuk, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Jum’at (28/8/2026).
Unit kecabangan organisasi Forum CSR Indonesia, wadah berhimpun kalangan dunia usaha dunia industri dan dunia kerja (DUDIKA) yang peduli dan berkomitmen kuat dalam penyelenggaraan program CSR (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan/TJSL) di bidang kesejahteraan sosial ini, mengabdikan aksi kolaboratif lintas aktor lintas sektor yang mengedepankan sinergi pentahelix plus antara DUDIKA, akademisi, komunitas masyarakat, pemerintah dan media tersebut dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Ketua Forum CSR Lampung, Dr. Veronika Saptarini melalui taklimat media, Ahad (30/8/2026) mengatakan, penanaman 4.000 bibit pohon bakau (mangrove) ini merupakan wujud komitmen sejumlah perusahaan anggota Forum.
Dalam menyokong pembangunan berkelanjutan khususnya melalui rehabilitasi kawasan pesisir yang hingga kini masih tertekan akibat abrasi dan perubahan fungsi lahan ditengah peningkatan krisis iklim global.
“Gerakan Gotong Royong Hijau dengan penanaman bibit mangrove di area konservasi ini kami lakukan karena kami melihat krisis iklim global saat ini telah menyentuh level membahayakan keberlangsungan Bumi. Termasuk, krisis ekologi kelautan dan perikanan kita sehingga penanaman pohon khususnya mangrove menjadi krusial,” ujar Saptarini.
Dua periode ketua forum ini sejak pertama terbentuk 2016 silam, dikenal penggerak pemberdaya sosial ekonomi dan social awareness engagement korporat, pendiri Yayasan Langit Sapta, intelektual organik: dosen, Ketua Pusat Studi CSR Universitas Bandar Lampung (UBL) ini menngingatkan peningkatan suhu bumi hampir menyentuh batas 1,5 derajat telah memicu cuaca ekstrem dan kenaikan gelombang laut.
“Dampak buruk krisis iklim bukan lagi sekadar cerita, namun sudah jadi bencana nyata. Di Indonesia, bencana ekologis banjir bandang, longsor di Sumatra Utara beberapa waktu lalu masih terpatri di ingatan kita. Di luar negeri, beberapa hari lalu gletser es raksasa di pegunungan Nepal mencair cepat hingga berakibat banjir bandang dahsyat hantam bangunan, hilangkan banyak nyawa. Semua bencana ini, alarm kuat bagi kita untuk makin cepat bergerak perbaiki alam sebelum terlambat,” ujar pengingat ia.
Memperkukuh argumennyi, Saptarini menguraikan sejatinya ekosistem mangrove adalah penyerap karbon (blue carbon) yang efektif, bahkan empat hingga lima kali lipat lebih tinggi dibanding hutan tropis daratan.
“Mangrove juga penjaga keanekaragaman hayati yang sekaligus memberi manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pesisir,” jelas ia.
Untuk itu, lugas ia, Gotong Royong Hijau pantang berhenti hanya sampai seremoni. Tantangan terbesar justru pada bagaimana memastikan hidupnya bibit-bibit tertanam.
Dari itu, woman-sociopreneur dengan lebih dari 25 tahun pengalaman profetik di korporat nasional dan multinasional kayu partikel, perkebunan dan penyulingan, pertambangan, dan ritel ini mengintensi kolaborasi lintas komunitas mutlak diperlukan untuk perawatan dan monitoring pascatanam.
“Sehingga investasi lingkungan yang dilakukan benar-benar membuahkan hasil jangka panjang bagi masa depan ekologi Lampung,” tandas multitalenta: advokat PERADI, arbiter listing BANI dan Wasekjen Institut Arbiter Indonesia (IArbI), mediator bersertifikat IMAC, anggota Dewan Pengurus Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP), Dewan Penasihat KADIN Lampung dan pernah Wakil Ketua APINDO Lampung ini.
Berikutnya, melanjutkan tradisi pengingat baiknyi di setiap kesempatan publik, Saptarini dalam kesempatan tersebut menginjeksi keniscayaan bahwa seyogyanya harus ada lebih banyak lagi korporasi beroperasi di Lampung yang adu balap, berlomba-lomba ambil bagian dalam aksi ini.
Menyitat data BPS, sedikitnya 420 perusahaan industri menengah dan besar terdaftar di Lampung. “Andai tiap perusahaan itu bangun komitmen kolektif untuk peduli pembangunan berkelanjutan di Lampung melalui program CSR/TJSL-nya, dampak positif dihasilkan bukan hanya untuk masyarakat dan lingkungan, namun juga bagi perusahaan itu sendiri. Percayalah,” mantra pengingatnyi.
MIRZA: TERUSKAN, BERKESINAMBUNGAN
Adapun, Tenaga Pendamping Pembangunan (TPP) Pemprov Lampung Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Edison, yang mewakili sekaligus membacakan sambutan tertulis Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menitipkan salam dari orang nomor satu di Bumi Ruwa Jurai itu.
Gubernur Mirza mengapresiasi kiprah kali kesekian dari Forum CSR Lampung dan juga perusahaan-perusahaan partisipan gerakan Gotong Royong Hijau ini. “Saya berharap program yang berfokus pada lingkungan bisa tetap terus berjalan berkesinambungan,” pinta gubernur.
Sebagai daerah bergaris pantai panjang —membentang dari Pesisir Barat, Teluk Semaka, Teluk Lampung, hingga Pantai Timur— wilayah pesisir Lampung berada di garda terdepan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
“Kawasan Kalianda dan pesisir Lampung Selatan, yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda, menghadapi ancaman abrasi pantai yang agresif, banjir rob, hingga potensi bencana gelombang pasang. Tanpa perlindungan vegetasi yang kuat, degradasi lahan pesisir ini tidak hanya merusak infrastruktur dan pariwisata daerah, tetapi juga mengancam nelayan lokal,” imbuh gubernur mengintensi.
Dari itulah, Pemerintah Provinsi Lampung menilai gotong royong tersebut bukan sekadar aksi penghijauan biasa, melainkan langkah mitigasi bencana berbasis ekosistem guna perkuat ketahanan wilayah Lampung dari ancaman krisis iklim.
“Sinergi perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan akan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas dan pelestarian lingkungan sekaligus mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” pungkas dia.
Menurut Rafli Pramudya, salah satu pegiat Forum, sesuai nama gerakan diusung, seluruh bibit mangrove, beragam fasilitas peralatan, tenaga kerja hingga akomodasi kegiatan dilakukan secara gotong royong riang gembira oleh barisan pegiat dari PT Nestle Indonesia Pabrik Panjang, PT Keong Nusantara Abadi, PT Tunas Dwipa Matra (TDM) Honda, PT Konverta Mitra Abadi, PT CNG Hilir Raya, PT Natar Gerbang Angkasa, dan Great Giant Food (GGF).
Turut hadir perutusan PT Telkom Witel Lampung, PT Bank Lampung, PT Pertamina Geothermal Energy, mitra program antara lain Ikatan Wartawan Online Lampung, Komunitas Lingkungan Satu Jejak, dan Yayasan Langit Sapta.
Forum CSR Indonesia sendiri, selain mengampu visi mulia “Mewujudkan sinergitas peran dan tanggung jawab sosial organisasi (dunia usaha, lembaga kesejahteraan sosial, perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah dan pemerintah daerah, LSM, dan organisasi sosial kemasyarakatan) dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial berkeadilan sebagai upaya percepatan pencapaian tujuan pembangunan daerah dan tujuan pembangunan berkelanjutan.”
Juga selain ditopang enam misi: membangun kemitraan multipihak dengan dunia usaha, lembaga kesejahteraan sosial (LKS), perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah dan pemda, LSM, dan ormas dalam penyelenggaraan program CSR/TJSL dan program kesejahteraan sosial. Kedua, melakukan peningkatan kapasitas perusahaan dalam program CSR/TJSL dan program kesejahteraan sosial agar tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ketiga, memfasilitasi pelaku usaha dalam penyelenggaraan program CSR/TJSL dan program kesejahteraan sosial. Keempat, membangun partisipasi, kemandirian masyarakat dalam penyelenggaraan program CSR/TJSL dan program kesejahteraan sosial. Kelima, mensinkronkan, memadukan dunia usaha dengan program CSR/TJSL dan program kesejahteraan sosial. Keenam, membantu pemerintah dan pemda mencapai tujuan pembangunan daerah dan SDGs.
Dipertajam empat strategi utama grand design penguatan kelembagaan Forum CSR pusat-daerah yakni peningkatan profesionalitas dan kompetensi insan pelaku CSR/TJSL; perluasan kemitraan dan jejaring kerja; penguatan basis data dan informasi valid dan relevan untuk penguatan dan efektifitas program CSR/TJSL; penguatan peran advokasi, konsultasi dan penyelenggaraan program edukasi nasional.
Dari itu, melalui semangat “Gotong Royong Hijau” ini, ajakan Ketua Forum CSR Lampung Veronika Saptarini ke seluruh elemen masyarakat Lampung untuk bersama menjaga kelestarian hutan mangrove sebagai warisan lingkungan bagi generasi mendatang, bergegas dibanjiri pelbagai respons positif seperti terpantau di sejumlah kanal digital.
















