Clickinfo.co.id — Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan para guru SMK Negeri 2 Palembang. Lahan kosong yang sebelumnya terbengkalai kini bertransformasi menjadi area pertanian produktif yang hijau dan asri. Inisiatif ini tidak sekadar kegiatan bercocok tanam, melainkan bagian dari visi besar sekolah dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
Gagasan tersebut berangkat dari keinginan sederhana untuk memanfaatkan lahan tidur di lingkungan sekolah agar memiliki nilai guna. Ketua Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Daman Huri, S.Kom, menjelaskan bahwa meskipun berlatar belakang teknologi informasi, para guru tetap memiliki kepedulian terhadap potensi alam di sekitar mereka.
“Kami memanfaatkan tanah kosong ini dan merawatnya hingga menghasilkan tanaman kebutuhan rumah tangga seperti cabai, terong, dan tomat. Prosesnya sekitar dua hingga tiga bulan, dari lahan kosong sampai akhirnya panen,” ujar Daman, Senin, 19 Januari 2026.
Ia berharap hasil panen tersebut dapat mendukung berbagai program sekolah, termasuk membuka peluang integrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Lebih dari itu, Daman mengajak seluruh warga sekolah untuk terus mengembangkan pemanfaatan lahan sebagai motor penggerak sekolah yang produktif dan mandiri.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Kompetensi Keahlian Teknik Sepeda Motor, Isropil, S.Pd. Menurutnya, kegiatan dapur hidup ini memiliki nilai edukatif yang penting, khususnya dalam menanamkan jiwa agraris kepada para siswa yang sehari-hari berkutat dengan dunia teknik.
“Kita sudah membuka lahan ini sejak tiga bulan lalu. Dari bibit yang ada, kita besarkan di sini sampai berbuah. Ini menjadi pesan bagi siswa-siswi bahwa sebagai negara agraris, potensi alam kita sangat besar dan tidak boleh dilupakan,” tegas Isropil.
Ke depan, program dapur hidup ini tidak hanya difokuskan pada tanaman sayuran. Para guru merencanakan pengembangan ke tanaman buah-buahan yang memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca ekstrem, baik curah hujan tinggi maupun panas terik yang kerap terjadi di Kota Palembang.
Adapun inovasi yang diusung dalam program ini meliputi pemanfaatan lahan tidur menjadi sumber pangan produktif, edukasi multidisiplin bagi siswa lintas kompetensi keahlian, serta dukungan nyata terhadap program pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan dan penguatan gizi di lingkungan sekolah.
Langkah inspiratif ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau bengkel praktik. Dengan sentuhan kreativitas dan kepedulian, sebidang lahan sempit pun dapat disulap menjadi sumber pembelajaran sekaligus kemanfaatan bagi seluruh warga sekolah.














