Clickinfo.co.id — NAMA Udo Z Karzi hari ini tak bisa dilepaskan dari perkembangan sastra Lampung modern. Ia dikenal sebagai penyair yang tekun merawat ingatan, bahasa, dan sejarah kultural Lampung dalam puisi-puisinya. Namun, jauh sebelum buku-bukunya terbit dan namanya tercatat dalam berbagai antologi, ada seorang remaja di bangku SMAN 2 Bandar Lampung—Smanda—yang diam-diam menulis tentang kegelisahan, cinta, kegagalan, dan Tuhan. Delapan puisi yang ditulisnya pada 1986–1989 sebagaimana dibaca dalam buku puisinya, Kesibukan Membuat Sejarah: 100 Sajak (1987–2025), adalah jejak awal yang memperlihatkan proses menjadi itu: proses yang jujur, rapuh, tetapi penuh daya hidup.
Membaca kembali puisi-puisi tersebut seperti membuka album lama yang kertasnya mulai menguning, tetapi aromanya masih menyimpan getar perasaan. Di sana kita menemukan seorang “aku” yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Dalam “Damba, 1”, ia menulis pengakuan yang terasa sangat telanjang: “aku masih barang belum jadi.” Kalimat ini bukan sekadar keluhan remaja. Ia adalah kesadaran eksistensial. Seorang pelajar SMA yang mulai menyadari bahwa hidup bukan sekadar hadir, melainkan harus diisi dengan makna. Ada rasa malu karena merasa belum berbuat apa-apa, belum menjadi siapa-siapa. Namun, justru di situlah letak daya apresiatifnya: kejujuran untuk mengakui ketidakmatangan.
Puisi “Damba, 2” mempertegas kegelisahan itu. Kata “nanti” yang diulang-ulang seperti gema penundaan. “Nanti, nanti, dan nanti.” Kita dapat merasakan pergulatan antara keinginan untuk bertindak dan kelemahan untuk memulai. Ini adalah potret psikologis remaja yang sangat manusiawi. Banyak orang dewasa mungkin pernah melewati fase itu, tetapi jarang yang menuliskannya dengan keberanian sejujur ini. Udo muda tidak menyembunyikan keraguannya. Ia membiarkannya menjadi puisi.
Diam-diam, dengan nama berbagai samaran, siswa kelahiran Liwa, Lampung Barat, 12 Juni 1970 sebagai Zulkarnain Zubairi ini mengirimkan puisi ke Mading Derap Pelajar (Deppel) Smanda, dan dimuat. Keberanian kecil itu menjadi pengakuan pertama atas kegelisahan yang ia tulis. Tak berhenti di situ, puisinya kemudian dimuat pula di beberapa media Jakarta seperti Minggu Merdeka, Simponi, dan Sahabat Pena. Bagi seorang pelajar SMA akhir 1980-an, publikasi di luar daerah adalah lompatan kepercayaan diri. Dari lorong sekolah, suaranya mulai menembus ruang yang lebih luas.
Tema pencarian diri kemudian bergeser ke wilayah emosional. Dalam “Hampa”, suasana kehilangan dihadirkan melalui lanskap ruang: jalan-jalan, lapangan, jejeran rumah panggung. Kota menjadi saksi kesepian. Yang menarik, ruang-ruang itu digambarkan “seperti sengaja menyembunyikanmu.” Ada kecenderungan personifikasi yang memperlihatkan intuisi puitik yang mulai tumbuh. Dunia luar tidak lagi netral; ia bersekutu dengan perasaan batin. Kesedihan menjadi atmosfer.
Puisi “Bunga Mawar” tampak sederhana—bahkan mungkin terlalu sederhana jika diukur dengan standar teknis puisi modern. Namun, kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya. Mawar merah sebagai simbol cinta, duri sebagai luka—adalah metafora yang klasik. Tetapi dalam konteks seorang remaja, metafora itu bukan klise, melainkan pengalaman pertama yang terasa sangat nyata. Luka karena cinta yang “direbut” orang lain meninggalkan duri yang nyeri. Kita tidak membaca teknik, melainkan membaca perasaan yang masih mentah.
Dalam “Resah”, suasana menjadi lebih intens. Senyum yang “terperangkap di antara kabut dan mendungnya cakrawala” menghadirkan imaji yang lebih atmosferik. Ada upaya membangun latar emosional melalui gambaran alam. Repetisi “menanti dan menanti” menciptakan irama kegelisahan yang panjang. Di sini kita melihat perkembangan: dari pernyataan langsung menuju penciptaan suasana. Udo muda mulai belajar bahwa puisi bukan hanya tentang apa yang dirasakan, tetapi bagaimana menghadirkannya.
“Puisi Kepada Ina” memperluas cakrawala metaforiknya. Malam berdengkur, dingin menusuk pedalaman sepi, rembulan dan bintang menjadi simbol harapan yang tak kunjung tiba. Ada kesan romantik yang lebih kosmik. Alam tidak hanya menjadi cermin perasaan, tetapi menjadi panggung kesunyian yang lebih luas. Jika pada puisi-puisi sebelumnya ruang masih konkret, kini ia menjadi metaforis. Ini menandakan proses pendewasaan bahasa.
Titik balik yang penting hadir dalam “Dan Jalan Masih Akan Panjang Lagi”. Jika sebelumnya didominasi keluhan dan kekecewaan, kini muncul tekad. “Aku tidak ingin binasa di sini.” Kalimat ini seperti deklarasi batin. Ia menyadari telah banyak menyia-nyiakan waktu, tetapi kesadaran itu tidak berujung pada putus asa. Justru lahir dorongan untuk melanjutkan perjalanan. Metafora “jalan” menjadi pusat puisi ini. Jalan adalah kehidupan, pendidikan, masa depan. Seorang pelajar yang terhuyung-huyung menemukan kembali kekuatannya untuk berdiri.
Perjalanan kepenyairan itu juga tidak bisa dilepaskan dari peran lingkungan dan pertemanan. Erina Pane, teman sekelasnya di SMA yang kini menjadi guru besar di Fakultas Syariah UIN Raden Intan Indonesia, adalah salah seorang yang “menjebloskannya” ke dunia puisi. “Erina yang meminta saya mewakili kelas menjadi peserta Lomba Baca Puisi. Keruan saja saya kalah melawan jago-jago puisi seperti Panji Utama, Ahmad Yulden Erwin, Muhtar Ali, dan Pondi. Meskipun tak menang, saya menjadi lebih terpacu menekuri bahkan ‘mabok puisi’ dibuatnya,” kenang Udo. Kekalahan itu ternyata bukan akhir, melainkan awal dari ketekunan. Dari sana, puisi bukan lagi sekadar tugas atau lomba, melainkan panggilan batin.
Puncak dari keseluruhan siklus ini tampak dalam “Kucari”. Di sini pencarian tak lagi diarahkan kepada diri atau kekasih, melainkan kepada Tuhan. Repetisi “kucari” membangun ritme doa yang terengah-engah. Pertanyaan “mana? di mana Engkau?” bukanlah bentuk keraguan yang sinis, melainkan kerinduan spiritual. Ada kerendahan hati dalam pengakuan bahwa ia merasa jauh dan tak mampu merangkul-Nya. Ini adalah fase transendensi: dari kegelisahan duniawi menuju pencarian ilahiah.
Jika delapan puisi ini dibaca sebagai satu kesatuan, kita akan melihat alur yang jelas: dari krisis identitas, luka cinta, kesadaran akan waktu, hingga pencarian Tuhan. Ia seperti perjalanan batin seorang remaja menuju kedewasaan spiritual. Dalam perspektif apresiatif, puisi-puisi ini penting bukan karena kesempurnaan tekniknya, melainkan karena keutuhan prosesnya. Kita menyaksikan seorang calon penyair sedang menemukan suaranya.
Perlu diingat pula bahwa proses ini berlangsung dalam atmosfer kreatif Smanda pada akhir 1980-an, ketika majalah dinding dan komunitas pelajar menjadi ruang dialektika estetik. Dari sana lahir generasi yang saling memacu dan saling mengasah. Dalam konteks itu, delapan puisi tersebut juga merupakan dokumen sosial: bukti bahwa sekolah dapat menjadi ruang pembentukan kesadaran estetik sekaligus ketahanan mental.
Secara teknis, memang ada repetisi yang berlebihan, diksi yang kadang terasa melodramatis, dan metafora yang masih konvensional. Namun, justru di situlah kita melihat kejujuran seorang penulis muda yang belum terkontaminasi oleh kalkulasi gaya. Ia menulis karena terdorong kebutuhan batin, bukan demi reputasi. Dan sering kali, puisi yang lahir dari kebutuhan batin memiliki daya hidup yang lebih panjang dibanding puisi yang lahir dari ambisi.
Apresiasi terhadap puisi-puisi awal ini mengingatkan kita bahwa setiap penyair pernah berada pada fase “belum jadi”. Tidak ada lompatan instan menuju kematangan. Yang ada adalah jalan panjang, penuh keraguan, luka, kekalahan, dan pencarian. Dari lorong-lorong Smanda, seorang remaja belajar bahwa puisi bisa menjadi cara memahami diri, mencintai, gagal, bangkit, dan akhirnya berserah. Dan benar seperti yang ia tulis sendiri: jalan memang masih akan panjang lagi. Tetapi, dari awal yang sederhana di Smanda itulah jejak kepenyairan itu bermula—jejak yang terus menapaki sejarah, bait demi bait. []
________________
Affan Zaldi Erya, alumnus SMAN 2 Bandar Lampung, Pemimpin Umum Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila (1994-1995), sekarang Ketua Ikatan Master of Ceremony Lampung Utara.












